Paspor Ijo (third world passport)


passport stamps

Beberapa waktu yang lalu, gue terlibat diskusi yang agak sengit di komunitas backpacker Indonesia. Skenarionya, seorang pejalan hampir gak jadi terbang ke Vietnam karena di Bandara Sukarno Hatta, petugas Tiger airways mempertanyakan tiket pulangnya. Masalahnya dia belum menentukan kapan pulang karena mau melakukan trip overland dari Indochina sampai Singapore.

Para komentator ada yang nganggap hal ini aneh dan ada pula yang menasehati lain kali beli return ticket. Jreng!!! Hal ini bikin gue tergerak untuk ikut-ikutan nimbrung dan terjadilah diskusi yang cukup panjang.

Menyertakan Return Tickets saat traveling keluar itu cukup lah hal yang opsional. Apalagi kalau perjalanannya nggak membutuhkan visa atau lintas benua. Karena, gue emang selalu kesal tiap2 terbang ke KL dari Padang, selalu melalui debat-debatan dengan petugas check-in airasia karena gue hampir selalu gak menyertakan return ticket. Gue tanya, apakah ini keharusan?? Si petugas jawab, mbak bisa dideportasi.

Gue bilang, okay.. kita lihat aja nanti, apa saya akan dideportasi, jadi mas gak usah cemas.

Atas dasar apa Malaysia mendeportasi saya pulang ke Padang kalau saya gak salah apa-apa?? Konyol bukan kebijakan dari maskapai di Indonesia. Kecuali kalau gue pernah diblacklist baru deh!!!!!!

Bukankah konyol, menyertakan return ticket tiap-tiap kita traveling overseas, yah.. kawasan Asia Tenggara atau sesama bebas visa/ VoA. Karena bisa saja, gue pulang gak melalui rute yang sama. Misalnya, masuk melalui Malaysia, biasanya gue selalu pulang lewat Singapore dan Batam. Beli tiket ferry ke Batam, gak perlu booking ticket segala jauh-jauh hari. Go show di 2 jam-an terakhir, banyak pilihan Ferry di Batam dan Singapore.

Lalu datang peserta yang lain, dia cerita pengalamannya tentang gak dikasih boarding pass saat di Casablanca menuju Kuala Lumpur karena dia gak punya tiket pulang ke Jakarta. & dengan kepanikan buta, dia menyerobot setiap orang lewat untuk mencari internet dan beli tiket online tujuan KL – Jakarta, dan terjadi drama pula.

Hmmm, bagi gue sih…. dia terlalu cepat takluk dengan petugas maskapai. Gak sesuai dengan filosofi hidup gue yang; Bukan orang lain yang mengendalikan gue, tapi gue yang harus mengendalikan orang lain… atau minimal seri, it’s the Game.. Hmm… yaaaaa mungkin karena itu gue agak susah hidup berpasangan.. I admit it, in a relationship biasanya gue yang sangat dominan, jadi gue bukan tipe cewek ‘kemayu” yang nunduk2 ke ‘uda/abang/mas/kang deeeehhhh… Tradisi sungkeman aja gue agak anti meskipun ke cowok sendiri, kecuali ke orang tua. contoh lainnya, gue gak bisa makan babi, kalau lagi ngedate, harus gue yang ngatur kemana kita makan….. something like that… Dan memang, ketika gue ketemu teman Belanda di Belanda, dia ingat kebiasaan gue.. dan menghidangkan makanan bebas porky..😉 , mungkin gue akan tambah menyebalkan kalau jadi vegetarian…..😛 *untung gue bukan veggy*

Kembali ketopik awal, menurut pengalaman,- perlakuan petugas itu kadang sangat bergantung dengan nationality kita juga jenis paspor kita. Biasanya, paspor dari negara dunia ketiga seperti Indonesia, memang sering dipersulit. Mungkin lain lagi kalau kita pemegang paspor diplomatik Indonesia, buat kalangan pejabat. pemegang greencard.

Kalau gue jadi dia, gua akan bilang… tujuan saya selanjutnya overland trip ke Semenanjung Malaya beberapa minggu, atau Indochina lalu pulang ke Indonesia dengan Ferry. Dan naik Ferry tiketnya go show lho, atau kalau saya sudah mendarat di Malaysia saya bisa naik kapal ke daratan Sumatera. Menurut gue,.. bisa-bisa kita aja berdiplomasi dengan petugas maskapai. Yang gue heranin, orang Indonesia.. kok pada tunduk banget yaaaa…… jadi terkesan, we’re a bullyable nation gitu. Muka-muka polos dan paspor yang diperlakukan seenaknya. Sampai kapan kita harus begini!!!!????

Dan terbuktikan, dia gak harus punya tiket KL-JKT yang di last minutes pihak airlines memberikan boarding passnya, dan nyuruh dia check-in di last minutes, ini hanya gertakan pihak maskapai. Setelah lelah nangis-nangis ala sinetron,- buang-buang tenaga.

Harusnya, disituasi seperti ini jangan panik. Kita ajak petugas berdialog, ngotot tapi sopan.. Disini kan jelas, antara Maroko dan Indonesia; bebas Visa. Malaysia- Indonesia apalagi, bebas visa. Dan yang terpenting, kita punya tiket keluar Maroko. Kalau kita tidak punya tiket keluar Maroko, ini bau masalah.

Ajak petugas berargumen, kenapa saya gak bisa dapat boarding pass, kenapa waktu saya beli tiket gak ada pemberitahuan saya harus punya tiket pulang, kasus saya,- setelah dari Maroko saya gak akan langsung pulang ke Indonesia, saya akan traveling dulu kebeberapa negara Asean. Mungkin 3 bulan kemudian saya akan pulang, dan saya belum memutuskan kapan saya akan pulang. Tentang uang, gak usah panik…. setiap bulan, uang selalu mengalir kok ke rekening saya, karena saya punya bisnis di Indo…  Membaca skenarionya, gue yakin… dia lagi dikerjai pihak maskapai, mungkin.. karena… yup… your passport and nationality.

Akan lain cerita kalau kita ke Eropa atau Amerika. Ngedapetin visa Amerika aja, orang Indonesia harus diwawancarai dulu di kedutaan, yah.. dari sini udah dibahas, apakah kita akan beli return ticket atau gimana……..

Ketika gue bilang ini, mereka nyaranin jangan berdebat sama petugas. Hah, kalau kita yakin kita gak salah, kita harus mempertahankan kebenaran kita dong… Gak bisa gitu, seolah-olah kita nunduk-nunduk aja.

Duluuuu banget, gue sering deal sama imigrasi. Sejak tahun 2006, tiba-tiba imigrasi Singapore nggak ngasih perpanjangan visa gue untuk 30 hari kedepan. Gue kaget, karena waktu itu gue baru kelar Internship, student visa gue habis.. dan gue sudah menghabiskan visa tourist 2×30 hari, ..’seingat gue’,- kata officer di tempat gue nuntut ilmu, kamu akan dapat visa tourist selama 90 hari, which means 3×30 days. Ternyata dia asbun atau gak uptodate.

Gue ngotot sama imigrasi, lalu pihak imigrasi dengan juteknya bilang; “kalau gitu suruh sekolah kamu ngecap paspor kamuuuuuuu”

Hahahaha…. Juteknya madam…. Lalu officer yang satunya lagi bilang, “jadi kamu gak tau hari ini, hari terakhir kamu di SG.. sebenarnya gampang,-… pergi aja ke Batam selama seminggu lalu balik lagi”

“tapi kamar yang aku sewa gimana” gue tetap gak mau rugi…

Lalu dia bilang, “ada cara lain, saya kasih kamu waktu sampai besok.. kamu cari teman Singaporean kamu untuk memberi sponsorship ke kamu, lalu saya akan kasih kamu waktu seminggu lagi.. kamu bisa urus semuanya..”

Lalu gue telpon salah satu teman Singaporean, tadinya minta tolong ke landlord Singapore gue.. dia gak mau. Takut, ntar kalau kamu kenapa2 saya yang tanggung jawab, atau misalnya kamu terlibat drug……..

Akhirnya, teman cowok Singapore gue minjamin ID cardnya dan menandatangani persetujuan, untuk mensponsori gue selama seminggu… Thanks.

Ini pengalaman pertama gue dealing sama imigrasi yang ribet. Lalu, setahun berikutnya, gue harus deal dengan imigrasi lagi. Kali ini gak hanya imigrasi Singapore, tapi ditambah dengan imigrasi Malaysia, di Johor Bahru.

Ketika sebagian besar teman2 gue milih pulang ke Indonesia saat kuliah usai, gue memilih di Singapore nyari kerjaan. Dengan 30 hari turis visa, dimana satu hari itu terasa sangat berharga, dan gue pergunakan untuk ngirim lamaran demi lamaran. Kadang, gue dipanggil, diwawancara.. dan gak ada kabar beritanya ….. Sampai bulan kedua… gue harus keluar Singapore, lewat woodland checkpoint, singgah beberapa jam di Johor Bahru dan malamnya masuk Singapore lagi, dapat another 30 days. Yesss… 30 days yang sangat berharga, saat itu gue dipanggil kerja, tapi under freelance (yang sebenarnya ilegal, karena perusahaan gak mau rugi, kadang dia mau coba-coba dulu….. sebagai fresh graduate, kita kadang2 mirip ‘perek’, di coba-coba aja!!!!

well, welcome to real world myself, it’s not school life, dimana kamu raja karena kamu hanya murid sekolahan yang sotoy, … sekarang kamu yang ngemis-ngemis nyari kerjaan, mengetuk pintu2 perusahaan seantero Singapore.)

Keluar Singapore, dan ternyata gue tertahan di imigrasi Malaysia. Waktu itu, imigrasi Johor Bahru masih sangat kotor dan benar2 mirip imigrasi dunia ke 3. Petugas imigrasinya pun berusaha untuk minta duit gue agar gue bisa keluar Malaysia dan masuk Singapore.

Preeettt!!!! Gue diliatin bule-bule yang lewat karena harus ngotot2an sama petugas imigrasi please let me in……. Nasib, paspor Ijo. Coba paspor gue, paspor Eropah… mana mau si petugas imigrasi ini malak gue….. Hmm, bukan gue namanya kalau mudah menyerah😛

Gak bakal dapet duit gue seperser pun deh lo.. Yup, akhirnya gue lolos… mungkin dia capek sama gue yang juga gak mau ngalah… ngotot harus dapat cap pasport.

Bulan berikutnya, gue ditahan lagiiiiiiiii… ya lagi, lagiiiiiii… sampai gue terbiasa dan hafal apa yang mau gue perdebatkan lagi dan lagi. Gue bilang, gue lagi nungguin interview ke 3.. karena kan kamu tau sendiri, nyari kerja kan melalui proses…. setelah ‘ngobrol-ngobrol’ sejam lamanya dikantor imigrasi Malaysia, akhirnya gue lolos…… Masuk Singapore, HORREEE.. rasanya, Plong… tapi, gue gak boleh bahagia duluuuuuu….. Masih ada rintangan yang lainnya!!!

Imigrasi singapore di Woodland sana, hanya seberang lautan kok, kira2 ratusan meter jaraknya!!!

Setiba di imigrasi Singapore, gue diinterogasi lagi, …… kali ini gak lama… Di imigrasi Singapore gue harus nahan-nahan emosi, karena gue lagi nyari kerja di negara ini, gue harus show respect lahhhhh. Mengetahui gue sebenarnya memang salah, gue minta maaf dengan nada lembut, lalu gue liatin email-email dari companies yang pernah invite gue wawancara. Bukti gue bener2 lagi nyari kerja. Lalu si bapak imigrasi bilang, seharusnya.. kalau udah begini, kamu pulang aja dulu ke Indonesia, Batam yang terdekat kalau kamu gak mau buang-buang duit untuk tiket pesawat, sehari atau 2 hari… Jangan ke Malaysia, ntar kamu dimintai duit sama imigrasi sana..

Hah, gue kaget… kok tau sih…

Lalu hal yg terpenting adalah, paspor gue dicap.. yes another 30 days…. duuhhhh, rasanya pengen nyium tanah Singapore.. (lebay!!!)

Setiba di kotanya, gue cari teman Jepang gue… Karena gue heran, kenapa gue selalu dipersulit di imigrasi Malaysia Singapore, sedangkan dia nggak separah gue, padahal…  frekuensi keluar masuk SG-MY lebih banyak dia dibanding gue, karena dia angkatan diatas gue, jadi dia lulus 6 bulan lebih awal dari gue…. dan kita berada dalam situasi yang sama, mencari pekerjaan

Lalu dia berkata; ” itu karena..satu, kamu cewek…”

Hah.. gue ngerasa didiskriminasi,

Dia; ” Cewek… apalagi Indonesia ke Singapore, akan dicurigai dibanding cowok, contoh… kamu bisa nyari duit ilegal dengan cara prostitusi, banyak kan prostitut Batam yang nyari duit di SG, earn dollar. that’s why…..”

Beuh…. It’s unfair.

“Dan kedua??” Gue tanya

“I hold Japanese Passport, …. sad but true, it’s abit different from Indonesian passport…..hmm”

Tanpa dia melanjutkan kalimatnya gue tau, bedanya gimana…. Yang satu paspor negara terpandang, disegani dunia…. paspor gue,-…….. pasport TKW, negara dunia ketiga dan sebagainya….

LIFE IS FUCKING UNFAIR…. Paspor IJO… kamu terkutukkkkk!!!!!!

Kadang.. gue merasa agak ironis kalau orang Indonesia ingin keliling dunia dengan cara ‘backpacking’. Backpacking adalah perjalanan budget, – disaat traveler Inggris sanggup traveling dengan modal murah ke 201 negara,  bagi pasport Indonesia, kita akan membutuhkan biaya 4 kali lipat dari pemegang pasport Inggris ini. Kita harus bayar visa untuk sebagian besar negara, paspor Inggris, mereka bebas visa untuk hampir seluruh negara.. *hampir*.

Belum lagi perlakuan petugas maskapai, kita harus mendapat gertakan kalau kita harus beli tiket pulang, yang kalau kita terlalu polos dan ‘nuruti peraturan konyol’ ini, kita akan membeli tiket hangus.

Backpacking keliling dunia….. agak maksa untuk pemegang pasport dunia ketiga.

Paspor Ijo, paspor garuda.

Pemilik paspor ijo, ibaratnya hewan-hewan di kebun binatang, orang luar dengan mudah mengunjungi kita, melihat-lihat kita.. dan kebanyakan kita sering bangga dikunjungi tamu luar, merasa tersanjung… lalu orang asing ini moto2 kita dan seperti monyet-monyet lucu di kebun binatang kita suka difoto sama pengunjung, kadang minta foto-foto sama pengunjung.. mister, mister.. foto mister…  Fakta pahitnya, kita terkurung, susah kemana-mana.. melihat dunia luar, hanya mendengar kata orang… dari balik kebun binatang bernama, kebun binatang Indonesia Raya atau Kebun Raya Binatang Indonesia… huhuuuuhuuuuuu….😥

6 thoughts on “Paspor Ijo (third world passport)

  1. But then again, Indonesia is beautiful.🙂
    The highlands of Sumatera Barat reminds me of Switzerland.
    🙂

    But yes, I know that too well, going around the world. Getting a visa is a hassle. But well, when there’s a will, there’s a way🙂

    • SWITZERLAND? did I heard that right? it’s way far from switzerland. It’s a snowy paradise. Indonesia is… kinda shit.

  2. yaaa.. just entertain ourselves by admiring how beautiful our land is🙂

    I still hate Indonesian Passport, Indonesian officer at check-in counter who never stop asking me stupid question where’s your return ticket, really makes me feel like one of member in the zoo where I can’t go to get my freedom… and I hate it when my fellow traveler from Singapore, Malaysia, Europe..they can travel spontaneous….

    If there’s a way to trade this passport, I’d do it…..😦

  3. Asli deh mba. Selama ini aku taunya kita mesti punya return ticket loh buat ke luar negri nya. Brasa telat banget baca blog kamu mba. Haha btw thanks a lot infonya ya. Hahaha aku jd ngefans deh sama kamu mba. Huhuhu segitunya banget ya sama paspor indonesia😥

  4. “Hmmm, bagi gue sih…. dia terlalu cepat takluk dengan petugas maskapai. Gak sesuai dengan filosofi hidup gue yang; Bukan orang lain yang mengendalikan gue, tapi gue yang harus mengendalikan orang lain… atau minimal seri, it’s the Game.”

    tidak satu artikel pum yang dibuat tanpa melewatkan kesempatan untuk “menonjolkan” diri sendiri. Masa orang lain disuruh sama semua? disuruh ngikut “filosofi” anda? kalau memang benar filosofi anda begitu, WHO CARES? anda cuma mengatakannya karena anda pikir anda punya “filosofi” yang lebih baik. Gerting sick of these… Narsis kurangi sedikit lah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s