sebuah cerita tentang banyak cerita


Ketika mengunggah foto berupa pasta, tiba-tiba ada yang sinis nyela secara tidak langsung, Helahh, kita ini orang Indo. Makan nasi goreng ajalah….. Pete, Jengkol…. Oncom dan sebagainya.

Dahulu kala di Jakarta, saat gue dan teman-teman sedang berada didalam mobil teman, melalui radio kita mendengar si penyiar bertanya. “Apa minuman yang cocok dengan makanan ini “ (salah satu makanan Eropa yang gue lupa apakah itu Pasta atau Steak)

Gue jawab sekenanya: White Wine.

Dua orang teman menyela, “air putih ajalah….”

Lalu nggak sampai semenit kemudian si penyiar melanjutkan kuisnya, “yaaa.. white wine pendamping makanan ini”

.. TRENGG TRENGGG

SATU KOSONG!!!! Satu untuk gue, kosong untuk yang nyela gue!!!

Kira-kira seperti itulah salah satu ketidakmasukan gue dengan beberapa teman di Jakarta yang tidak welcome dengan gue bertahun-tahun lalu yang ternyata masih diungkit-ungkit teman perjalanan gue (refer ke postingan sebelumnya)

Hal remeh temeh ini sebenarnya nggak perlu diungkit-ungkit, namun ada beberapa teman yang membaca entry sebelumnya dan bertanya.

Padahal, apa salahnya dengan memasak pasta, sushi, makanan Eropa atau Afrika lainnya.

Namun, ada yang merasa kita begini karena kita sok kebulean, high class… atau tidak nasionalis. Padahal, buruh kelas rendah di Italia juga makan pasta.

Menurut gue sih, sikap seperti ini hanya sikap inferior serta kurang terbuka dengan sesuatu yang baru.

Contoh lain, kadang kita dianggap tidak rendah hati saat kita berkomunikasi dengan membawa-bawa sebuah Negara yang pernah kita kunjungi. Padahal, dengan kalimat relevan.

Setelah melewati imigrasi Kamboja, gue bercakap-cakap dengan teman hanya sekedar mengisi ruang diantara kita daripada hening tanpa suara; “ Kamboja ternyata Negara yang orang imigrasinya nggak jutek. Yang jutek itu biasanya, imigrasi Singapore dan Malaysia. OH iyaaa.. baru gue ingat, ada sih selain Kamboja.. Imigrasi Belanda juga ramah, selain ramah.. ganteng-ganteng lagi”

Si teman meladeni kalimat terakhir gue dengan expresi seperti malas-malasan.

Dari ekpresi wajahnya yang gue baca, menurut teman kalimat gue tidak rendah hati. Kalau menurut gue, dia merasa inferior karena bagi dia, gue menceritakan kisah perjalanan gue, ibaratnya gue sedang menyombongkan pernah kesini dan kesana, sedangkan dia belum pernah ke tempat yang gue ceritakan.

Bisa dibedakan dong mana yang scumbag dan mana yang hanya sekedar memberi informasi.

Contoh scumbag: “tau nggak, kemaren gue ketemu pelayan ganteng di sebuah kafe, waktu lagi liburan di kapal pesiar mewah ke Mediterania…”

Atau; “liburan ke Paris, duit habis.. shopping.. keluar masuk butik dari LV sampai bla blahhhhh”

Dalam cerita gue,- ini hanya informasi karena gue baru melewati imigrasi yang ternyata ramah banget, gue beri pujian.. dan ingat ternyata gue pernah bertemu imigrasi yang ramah selain Kamboja, yaitu BELANDA.

Dimana letak nada sombong dari kalimat gue??? Yah, kalau situ pola pikirnya rada picik mungkin mikirnya begini.

Apa gue diharapkan untuk diam-diam sajalah pernah kesini atau kesana, bikin iri orang aja… AHAA!!! Gue malah sebaliknya, gue senang mendengar cerita para traveller yang gue temui. Gue suka mendengar cerita apa yang baru mereka alami, dan mereka temukan di perjalanan.. selama bukan cerita tipe scumbag diatas.

Contoh lain; teman Belanda pernah cerita,- di Thailand, dia merasa aneh… kenapa banyak bule-bule tua yang sudah berumur diatas 70 tahun menikah dengan wanita-wanita muda Thailand.

Dan ketika gue ke Thailand, ternyata yang diceritakan teman gue itu terbukti. Eh, waktu gue bahas ini ke teman perjalanan,- Jawabnya; Yaaahh.. nggak usah ngurusin urusan orang lain.

Nah gue bingung??? Kok jadi salah pengertian. Kita bukan lagi rese’ mengurusi urusan orang lain lho.. kita nggak kenal mereka dan mereka nggak kenal kita. Tapi ini menarik untuk dicari tau.. kenapa bisa begini. Di tambah lagi dengan sejarah Thailand yang nggak pernah terjajah dengan bangsa Eropa, kenapa sekarang malah mereka yang cenderung ke mental inlander.

Padahal kalau si teman mau berpikiran terbuka dan menjadi curious, hal ini bisa kita bahas dan diskusikan. Gue sering berdiskusi tentang sociocultural dengan teman-teman Eropa gue, karena gue senang mendengar opini dari sudut pandang mereka. Kok, si teman perjalanan menuduh gue ‘rese’ dengan obrolan seperti ini.

Waktu jalan sama teman ini ke Indochina, jujur saja.. gue nggak merasa kita pernah melakukan diskusi yang berguna. Karena kasus pertama di sebuah taman di Bangkok, saat gue cerita ke teman, tentang gue nggak suka orang tau tentang umur.

Tiba-tiba si teman berkomentar dengan nada nyolotin, “ahh.. lo aja yang ngak bisa nerima kenyataan dengan umur… kalau gue mah nyantai2 aja….”

Gue jadi terpana begitu mendengar jawabnya. Nyolotin??? Yang gue harapkan dia nanya dulu kenapa, dengar dulu dan baru kasih opini.

Kenapa?? Karena selama gue hidup di Singapore… umur teman-teman dari Indonesia gue bervariasi, ada yang lebih tua, seumuran dan ada yang jauh lebih muda. Kalau kita hidup di Jakarta yang penduduknya ‘kurang berbudaya’ hmm sorry, kita hampir nggak pernah dengar.. orang yang lebih muda memanggil kita yang lebih tua dengan embel-embel Mbak dari Jawa, atau Uni dari Minang.

… karena teman-teman gue banyak yang dari daerah, saat mereka tau gue lebih tua dari mereka… gue akan dipanggil mbak. Sedangkan gue yang sudah terbiasa hidup di Jakarta/Singapore merasa canggung dipanggil dengan mbak. Tapi teman-teman dari daerah bersikeras untuk memanggil gue dengan mbak. Jadi, amannya…. lebih baik gak perlu tau umur kita berapa……

Si teman terdiam, dan mengganti obrolan tanpa reaksi sportif.

Dituding Egois tanpa alasan yang kuat membuat gue berpikir keras dimana letak keegoisan gue. Okay, then I tried to recall what made she said so during our journey. I want to break down every moment that she might think I’m a really selfish person, or I think she’s just too judgmental person which unfortunately I just realized it after the trip.

1. Seusai mengunjungi Chatuchak market, si teman ingin ke MBK (Mangga Duanya Bangkok). Gue yang merasa nggak punya kepentingan ke tempat itu, nggak ada yang mau dibeli pun bilang ke teman.. ‘lo sendirian aja ya ke MBK nya’

Si teman dengan rada bete menjawab, boleh… 

Di perjalanan dia tampak berat dan takut untuk jalan sendiri di negara yang masih asing. Gue yakinkan ke dia, gue juga masih asing di Thailand. Bule-bule yang seliweran juga banyak yang traveling sendiri. Yang penting, ntar kita ketemunya di stasiun ini, gue jelasin ke si teman rute untuk mencapai MBK berbekal BTS map.

Dan ketika malam tiba, kita bertemu lagi ditempat yang dijanjikan, gue bilang ke dia… “bisa kaann lo jalan-jalan sendiri, kalau gitu ntar kita bisa milih jalan sendiri-sendiri dan ketemuan di hostel aja”

Dengan betenya si teman menjawab; “kalau gitu, apa gunanya kita jalan-jalan berdua!!”

Mungkin disini si teman menilai gue egois. Yang menurut gue, hal ini sih biasa. Harusnya si teman mengucapkan selamat ke dirinya sendiri, sudah berhasil berkelana sendiri di Bangkok walaupun beberapa jam saja. Ini pengalaman pertama, sudah prestasikan.

Sejak umur masih belasan, bokap gue sudah melepas gue dalam perjalanan bus yang ditempuh lebih dari 30 jam melintasi pulau Sumatera. Dan sebagai anak kampung yang kurus, gue mendarat di terminal bis Rawamangun yang banyak copet dan jalan sendiri menelusuri Jakarta yang semrawut dan ganas sampai gue terbiasa dan nggak punya rasa takut sama sekali menjadi sendiri ditempat yang masih asing.

Disini, gue juga mencoba untuk melatih ‘keberanian’ si teman, ternyata hal ini menurut dia egois. Hah??!!

Orang tua gue mendidik dengan cara ini. Mengizinkan gue untuk latihan karate selama 2 tahun, membelikan gue tiket bus ke pulau Jawa dan memercayai gue hidup di ibukota yang kejam, nge kost sendiri, mengizinkan gue untuk memilih hidup diluar… dan traveling sendirian. kita lahir dan mati didunia ini sendiri-sendiri juga kan… Kenapa semuanya harus bersama teman??

2. Si teman sangat tertarik ke Museum lilin, Madame Tussaud. Sedangkan gue sama sekali nggak tertarik kecuali kalau tiket masuknya virtually free. Menurut gue tiket masuk ke MadameTussaud gak sesuai aja dengan apa yang akan kita dapat. Hanya kegiatan untuk berfoto-foto narsis dengan patung lilin figur publik yang tujuannya hanya untuk dipajang di facebook, gue harus mengeluarkan ratusan ribu rupiah. No way. Dan gue sama sekali nggak melarang si teman, gue malah bilang kalau lo mau ke sana silahkan, gue bisa ketempat lain.

Mungkin ini hanya masalah perbedaan sifat. Gue, kalau mau kemana-mana nggak perlu ngajak-ngajak orang. Kalau gue bisa sendiri, kenapa gue harus merepotkan orang lain. Kalau si teman, gue temanin lo kesini dan ntar gue temanin lo kesana. Semuanya harus sama-sama, kalau nggak begitu.. itu namanya EGOIS.

Lha, bagi gue…. gue juga nggak butuh teman kalau si teman nggak tertarik dengan tujuan gue. Nggak ada pemaksaan, hanya menjadi lebih mandiri aja. Itu yang gue harapin dari seorang teman perjalanan.

3. Waktu di Siem Reap, si teman memberi memberi ide yang menurut gue.. Beuh, you’re such a lazy ass.

Si teman menyarankan bagaimana kalau kita menyewa satu sepeda aja lalu kita ganti-gantian. Woaaaa…. gue langsung bilang rada jengkel dengan ide malasnya.. Hell no. Elo malas amat sepedaan, yakkk, pegel dong… Nyewa sepeda hanya satu dolar?? pelit amat!!??

Lagian, emang nggak cape’ ngeboncengin beban hampir 60 kg untuk 30 km perjalanan. Gue juga nggak mau di boncengin, gue lebih suka mengayuh sepeda sendiri, mengekplorasi sendiri…. dibanding harus bonceng-boncengan sama teman, ngobrol cekakak cekikikian tanpa menghayati komplek peradaban tua Angkor Wat.

Mungkin ini yang bikin teman berpendapat gue EGOIS. Si teman maunya, kita sepedaan gantian, kadang lo yang bawa dan kadang gue. Nggak efisien banget. Kenapa semuanya harus dilakukan berdua???

Menurut dia ini kan hanya saran gue, yaaaa, saran lo itu ngerusak mood gue, kenapa ada orang yang bisa mikir sampai se-lazy itu.. maunya dibonceng!!!

4. Last day in Saigon, gue ninggalin teman yang ngaret. Menurut teman mungkin ini tindakan EGOIS.

Well, mari kita renungkan baik-baik, siapa yang egois. Teman yang nggak bisa ontime atau gue yang ninggalin teman yang ngaret karena gue punya janji di Singapore hari esoknya. Apa si teman masih punya mindset ala sinetron yang lebay, kita harus bersama-sama apapun yang terjadi. Itu hanya terjadi di film-film remaja, baby!!

Mari kita pikirkan hal yang terburuk, ternyata benar si teman ngaret dan kita ketinggalan pesawat. Emang si teman mau beliin gue tiket pesawat. Dan nggak hanya itu, gue mau bilang apa ke calon klien yang akan gue temui di Singapore, belum apa-apa aja gue udah melihatkan sikap kurang profesional dengan alasan kekanak-kanakan, I missed my flight!!  

Orang Singapore yang sangat perfectionist nggak akan nerima alasan ketinggalan pesawat. Alasan yang masuk akal  bagi mereka, you got a terrible accident dan menyaksikan gue penuh luka-luka diperban sana sini. Alasan ketinggalan pesawat???? mending gue batalin janji sama sekali daripada kredibilitas gue ternodai. Apa yakin si calon klien mau reschedule appointment dengan gue??

Apa si teman mikir sampai kesini sebelum ngejudge gue egois!!?? siapa sih yang egois sebenarnya.

Seumur hidup, gue belum pernah ketinggalan pesawat. I just hope, things like this just don’t happen to me. 

5. Si teman menilai gue egois, karena saat mencari tempat duduk yang kosong di foodcourt yang penuh, gue menanyakan ke pasangan yang sudah selesai makan tapi masih ngobrol-ngobrol untuk ‘lebih aware’ kalau kita butuh tempat duduk (di jam makan siang).

Dan tempat itu tersedia colokan listrik yang berguna bagi gue untuk ngecharge Hape gue yang hanya tinggal 1 persen baterenya, itupun berguna buat dia.. at least kita masih bisa berkomunikasi kalau-kalau terpisah.

Mungkin kalau hidup di Jakarta memang semuanya lebih ekslusif, merasa udah bayar dan berhak untuk duduk lama-lama di foodcourt meski banyak yang antri.

Beberapa hari yang lalu, setelah memesan makanan disalah satu fastfood di Ngurah Rai airport, gue nggak menemukan tempat duduk kosong. Dan mata gue jatuh ke pria yang sedang duduk malas2an sambil sibuk dengan hapenya, gue dapati dia sudah menyelesaikan makanannya. Tapi tampak nggak peduli kalau gue sedang mencari meja kosong. Gue bilang blak-blakan.. “mas sudah selesaikan??? Saya bisa duduk disini…. ” dengan gesture menyuruh dia pergi.

Kalau di negara luar hal ini wajar. Karena kita nggak makan di restoran mahal untuk candle light dinner. Kalau si teman menganggap tindakan gue egois,- oke deh. Mungkin kita hanya sudah berbeda environment aja.

6. Gue sering kesal ke si teman karena dia kurang awas dengan tas kecil tempat passport dan hal-hal penting lainnya. Kejadian pertama, ketika menunggu kereta di stasiun Hatyai, dengan cueknya si teman meninggalkan tasnya di kursi tunggu. Gue langsung menegur… “ehhh.. tas lo bawa dong…..”, lalu dia jawab.. “kan ada lo, tolong jagain”

Satu, sebelum si teman meninggalkan tasnya, dia nggak mengingatkan gue. Emangnya entar kalau hilang, dia bisa nyalah-nyalahin gue.. Kan lo ada disini, Yee.. gue juga sibuk dengan diri gue sendiri.

Nggak hanya itu, waktu lagi makan dengan santainya si teman meninggalkan tasnya tanpa memberi tahu gue terlebih dahulu. Dan gue peringatkan, kita di luar negeri, tolong bawa tas lo kemana pun lo pergi… meskipun cuci tangan sekalipun.

Mungkin gue dianggap egois karena nggak mau watching over her bag!!! Buset Dah!!!

                                                     **************************

Dear teman yang selalu merasa dalam jalan yang benar dan merasa teraniaya, pernah nggak bertanya apa yang gue pikirkan tentang dia. Gue nggak akan judgmental seperti si teman, tapi mungkin si teman perlu tau apa yang benar-benar bikin gue merasa nggak klik banget dengan si teman, dan gue sadari selama di perjalanan.

1. Sebuah kasus menyebalkan, ketika makan siang di Chatuchak market, si teman ngebersihin hidungnya didepan gue.. picking your nose in front of somebody who’s enjoying her lunch.. sangat gak sopan!!! Gue protes, eh dia nyolotin, marah-marah….. dan nganggap gue sok high class, ke lo ini ngapain gue jaim-jaim, jawab si teman… Padahal sih, gue jijik aja!!! *travelmate from hell*

2. Waktu si teman mulai ngejudge gue macam-macam yang gue heran kenapa perjalanan ini jadi memuakkan dengan si travelmate mulai ngejudge dan ngegurui gue, gue bilang ke si teman. “lo nggak bersyukur ya”

Dia dengan nada nyolot: “Bersyukur?? Syukur karena apa??”

Gue nggak meneruskan, karena kalau gue lawan itu terkesan gue meremehkan dia. Tapi, okay.. mari kita akui, meski ini pahit tapi gue rasa si teman harus disadarin.

Si teman jarang traveling. Karena dia juga bukan tipe yang mau traveling sendiri.

Ketika dia ngajakin gue ke Bangkok, gue bilang ke dia gue lebih tertarik ke Vietnam sih. Dan sebenarnya sejak awal 2012 gue udah berencana untuk menjelajah indochina lewat darat.

Dia bilang, kalau begitu gue temanin lo ke Vietnam dan lo temanin gue Bangkok. Padahal sih.. jujur saja, gue bisa traveling sendiri tanpa dia. Karena gue dan teman sudah terpisah hampir satu dekade, gue utarakan niat gue ke siteman. Bagaimana lo ikut gue menjelajah indochina lewat jalan darat.

Gue ceritakan ke si teman, perjalanan ini akan memakan waktu minimal 2 minggu. Kita mulai dari Malaysia, Thailand, Kamboja, Vietnam dan berakhir di Singapore. Si teman belum pernah ke Malaysia, at least, dia sudah menginjakkan kaki di Malaysia meski pun nggak sampai satu hari. Dan, yang tadinya passportnya hampir kosong.. dari perjalanan ini, si teman dapat cap passport 5 biji. Dan si teman yang tadinya nggak ada ide, kita mau ngapain ke Kamboja (bahkan dia nggak tau ada situs dunia Angkor Wat) dan Vietnam (dan baru tau kalau Saigon adalah nama kota di Vietnam, atau mungkin baru tau kalau Vietnam itu terletak di Asia Tenggara), dari perjalanan ini mendapat kesempatan melihat dunia di luar sana. 

Si teman yang tadinya masih canggung dan selalu nyontek kertas imigrasi gue setiap crossing border, dari perjalanan ini dapat pengetahuan baru. At least, gak akan bingung lagi kan mau melintasi perbatasan diperjalanan yang akan datang, tanpa gue tentunya.

Dalam 2 minggu..si teman sudah diajakin keluar dari zona nyaman, dapat petualangan dan pengalaman baru. eh.. malah sibuk nyari-nyari kesalahan gue.

Ditambah lagi, menuduh gue nggak rendah hati.  si teman kurang pede berbahasa Inggris, gue sama sekali ngggak pernah ngeledekin Inggrisnya atau jadi semacam grammar nazi. Gue malah mendorong dia secara tidak langsung dengan menceritakan tentang kenalan gue warga negara Jepang, dia bisa traveling ke Asia Tenggara sampai Eropa dan Australia tanpa bahasa Inggris yang layak. Yang gue dan dia harus pakai bahasa tubuh untuk berkomunikasi.

Gue ceritakan hal ini agar dia nggak merasa inferior, ehhh dia yang rendah diri gue yang dituduh nggak rendah hati. SIGH

3. Gue harapkan travelmate gue bisa diajak ngobrol dengan wawasan yang luas. Namun, si teman ternyata tipe religious freak yang selalu bawa-bawa kopian mini bible selama di perjalanan. Wait..wait….. dont get me wrong!!!!

Gue nggak punya masalah dengan keyakinan orang lain. Hanya menurut gue, we’re just never click anymore. Gue sih lebih suka travelmate gue baca buku yang lebih universal dan kita bisa mendiskusikan isi buku yang dia baca selama perjalanan, tukar pikiran tentang buku hal menarik bukan. Gue dan dia bagaikan siang dan malam. Gue baca buku Sophie’s world tentang filosofi dunia, si teman baca bible. 

Dan hal yang membuat gue terganggu, waktu diperjalanan dari Thailand ke Kamboja. Hanya kita berdua penumpang berwajah Asia, ditengah-tengah European travelers. Si teman dengan cueknya baca-baca bible. Tentu dong gue risih. Jangan-jangan ntar bule2 ini mengira gue dan dia misionaris dari Asia, semacam pengabar Injil. Pffffhhh…

Gue mengutuk dalam hati, mau negur teman nggak usah terlalu show off, namun gue lagi nggak mood ngeladenin gayanya yang pasti bakal nyolotin kalau dibilangin. Gue keluarkan sobekan lonely planet, ini cukup membuktikan gue bukan golongan religious freak seperti si teman.

Pengen kenalan sama bule tapi terlalu naive dengan show off baca-baca bible. Orang Eropa itu beda banget sama Amerika… bagi bule Eropa kebanyakan, agama itu hanya a big joke!!!! Mungkin karena mereka sudah melewati masa-masa kegelapan saat agama mengontrol negara dan kerajaan.. I think they’re done with it. Di Belanda, gereja sudah berubah fungsi jadi restaurant atau bar, gak jauh beda dengan Singapore.

Lagian, topik agama dan politik bukan bahan pembicaraan yang cocok untuk dijadiin obrolan secara kasual dengan orang baru. Orang Eropa suka memulai perkenalan dengan topik tentang cuaca. Bukan kalimat seperti ini; agama kamu apa, kamu dari mana atau kamu mau kemana???

Gue nggak anti agama, dan gue pun masih beragama. Selama gue hidup bertahun-tahun di Singapore, gue punya roomate dari berbagai macam agama. Ada yang dari Indonesia, sipemeluk ajaran Budha. Teman dari Korea Selatan yang memeluk Katolik, Mauritius yang beragama Hindu dan dari China daratan yang agamanya gak jelas atau tidak ada.

Dari semua roomate gue diatas nggak ada yang bertipe religious freak. Hubungan gue dengan mantan-mantan roomate sangat baik… gue lebih suka dengan sikap keep your religion for yourself. Dan mungkin harus tau, kapan kita harus show off dengan agama dan kapan untuk menjadi lebih universal.

Teman gue dari berbagai macam agama, dan budaya….. juga negara. Kalau bergaul dengan sesama islam apakah itu Indonesia, Maroko.. gue akan berbicara seperti orang islam. Seperti mengucapkan insyaallah dan sebagainya.  

Tapi kalau lingkungan gue di ruang internasional, gue nggak akan menggunakan kalimat2 yang berbau agama, atau God bless you dan sebagainya. Teman-teman Eropa gue bakal nganggap gue so lame kalau gue mengucapkan .. take care, GBU….😛

Dalam international friendship,.. nggak semua orang menyukai tuhan dan sesuatu yang berbau I’ll pray for you, god will be with you bla blahhh……. Beda dengan di Indonesia, dimana menjadi keliatan alim itu penting banget!!!! Dari seleb, pejabat. Karena dalam budaya kita, orang yang keliatan beragama itu baik. Padahal belum tentu kan.

Mungkin para religious freak bisa membela, udah untung didoakan. Nah bagi yang sama sekali nggak into god ucapan; I’ll pray for you or god bless akan terdengar cynical for them. Because they don’t believe in that. Understood, my religious freak friends!!

Gue setuju, religious stuff is very sensitive subject. Yang theist, gak usah bawa-bawa tuhan kalau kita nggak tau keyakinan teman bicara kita. Mengucapkan god bless you sangat menjengkelkan bagi bebarapa orang. Misal, kita ngucapin god bless you ke atheist, tersinggung dong mereka. Sama aja kita menyuruh mereka untuk memaksa tuhan sedangkan mereka tidak percaya tuhan. Amannya, be neutral and universal.

Bagi gue sih, kita harus fleksibel. Gak bisa menjadi idealis dalam semua kasus, kita mungkin harus menyesuaikan cara berkomunikasi dengan siapa dan bagaimana teman bicara kita.

*gue dan si teman punya 47 mutual friends, lesson learned yang gue ambil.. , sebelum traveling dimulai, gue sangat excited untuk bertemu teman lama. Sekarang, I feel so numb… you’re just somebody that I used to know!!!*

4 thoughts on “sebuah cerita tentang banyak cerita

    • Zora,

      Udah dicuekin aja dia, anggap aja somebody I used to know.. .. 2 post terakhir di blog ini sebenarnya aku post di note facebook.. rata2 teman aku disana nggak ada yg tau blog ini, karena nggak pernah terlalu aku expose..🙂

  1. Hihihihi
    maap ikutan ketawa ya kak/mbak…
    (Salam kenal🙂 )

    Mirip bgt pengalamanannya kak ama kmrn akhir thn aku pegi ama tmnku. Trnyt setelah menelaah dan menimbang wkwkwkwk… jd ga nyaman ya pegi bgtu.. ga bs nikmatin bgt😦
    Dan tmnku ini tipe ga prna pegi sdri. Sll apa2 ama tur. Mau nya smua beres. Smua uda diatur n ga mau nyari2 info. Pas dsuru masing2. Dia jd ga mau pegi ke tempat A. Krn aku ga ikutan. Jd nya aku serba salah dah

  2. Hahaha, nyebelin ya, ho oh mending traveling sendiri, dibanding punya teman jalan nyusahin dan bikin makan hati. btw, thanks ya udah mampir…

    Oh ya, aku punya travel blog nih, khusus traveling.. main2 yaaa kesini; http://musafir.biz/ dan tegur sapa di sana….

    Cheers

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s