Travelmate from Hell


 

Lesson from the road yang gue petik dari perjalanan ke Indochina selama beberapa minggu adalah, ’kita bisa berteman dengan siapa saja, tapi nggak semua teman bisa dijadiin teman perjalanan.’

Di salah satu buku traveller Indonesia, Naked traveller by Trinity, kalau nggak salah dia juga pernah bercerita tentang ini. Gue lupa kisah detailnya, tapi isinya kira-kira begini, biasanya, diperjalanan lah kamu akan melihat sifat asli teman, meski kamu udah kenal mereka bertahun-tahun. Wow. Ternyata ini yang terjadi di gue. Masih fresh from the oven.

Dengan terpaksa gue tulis kisah ini di blog. Sumpah demi alam semesta gue udah lelah dengan si teman yang menyudutkan gue semenjak hari pertama di Bangkok, sampai akhirnya terjadi perang kata-kata antara kita di FB chat.

Sepertinya, obrolan empat mata di FB chat masih membuat dia tetap ngotot dengan khayalannya kalau gue egois, ‘aneh’, selalu merasa benar, nggak mau ngambilin dia foto yang menurut gue sangat norak (foto-foto dengan bule berbikini yang lagi berjemur di pantai), membiarkan dia sendiri shopping. Hello, traveling sama teman bukan berarti gue harus nemanin dia bargaining shit di luar sana kan. Kita bisa pisah kalau tujuan kita beda dan ketemu di hostel, dan lo sebut itu egois?? Cih!!!

Tujuan gue traveling untuk ngilangin stress dari rutinitas gue, mencari  inspirasi, melihat dunia luar, mencari object yang bisa difoto dan moments yang tepat serta mencari topik-topik yang bisa ditulis. Gue sedang merintis website tentang traveling yang gue harap suatu hari nanti website khusus traveling ini bisa bigger and bigger. Gue harap ini akan mendatangkan uang bagi gue cepat atau lambat.  At least, gue bisa dapat my travelling expenses refund dong,😛

Gue traveling, in search of adventure and knowledge, dia traveling dalam rangka shopping. Dan kenapa gue harus dianggap EGOIS kalau gue nggak mau menemani dia ke MBK (mangga duanya Bangkok), dan nawar-nawar barang. Gue juga suka ke pasar traditional saat traveling, tapi gue lebih suka mengamati apa yang mereka jual, – yang menurut gue banyak hal yang menarik dan original kalau kita blusukan ke pasar lokal suatu Negara. SAMA SEKALI BUKAN UNTUK TAWAR MENAWAR BARANG.

Sialnya, ditengah-tengah gue lagi mengejar deadline, terjadi pertengkaran antara teman dan gue di FB chat yang bikin kepala gue nyut-nyut-an dahsyat, merusak mood gue yang tadinya ceria. Ditambah dengan kalimat terakhirnya di facebook seperti ini ‘lo nggak waras’ yang gue rasa gak akan berakhir kalau gue ladenin dengan teman bermental seperti ini.

Dan okay, untuk menjaga kesehatan gue sendiri lebih baik gue tulis disini, semoga ini bisa memberi hidayah ke travelmate from hell alias nona tukang nyolot.

Gue publish di blog untuk lebih TRANSPARANSI. Karena gue nggak tau apakah si teman akan bad-mouthing dan menyiarkan cerita versi dia tentang gue ke teman-teman yang lain. Gosipping, like the other girls do.

===

Berawal dari hari pertama kita crossing border di Thailand. Gue bilang ke si teman kalau gue akan ke ATM untuk menarik duit. Si teman bilang, gak perlu.. lo beli BATH gue aja. Gue bawa banyak kok.

INGAT, BELI.. yang dalam pertengkaran gue dan dia, si teman mengubah kata ‘GUE PINJAMKAN’ .. Hah, pinjam darimana, gue nggak kekurangan duit,- kok jadi minjam?? Gue nggak tukang shopping kaya’ lo yang bentar-bentar kehabisan duit…

Yang gue pikirkan saat itu, si teman ini kelebihan BATH, atau ingin berbisnis BATH ke gue. Dia menyodorkan 2000 Bath ke gue yang dia bilang, bayarnya ENTAR DI INDO AJA, TRANSFER lewat ATM.

Yahhh, yang ada di pikiran gue.. si teman lebih butuh duit saat di Indo. Dan gue bilang ke dia gue bayarnya mengacu ke kurs online. Up to date dan terpercaya, dibanding money changer di Jakarta.

Dan, beberapa waktu lalu gue check harga bath ke rupiah ternyata melemah. Tentunya, gue bayar dengan kurs saat gue MEMBELI bath dia, lebih tinggi dari harga sekarang, adil kan. Eh, si teman nggak terima. Si teman bilang, gue beli di money changer lebih dari itu.

Gue bilang ke si teman, hmmm… kalau gitu mending gue narik duit dari ATM deh. Biasanya gue juga nggak pernah bawa-bawa duit banyak dari Indo. Gue selalu menarik duit di negara tempat gue berada, apa gunanya logo cirrus di ATM kalau kita masih bawa-bawa banyak uang. Lagian risky banget bawa-bawa duit jutaan di dompet. Kalau ngambil duit di ATM, palingan hanya Kena biaya administrasi gak lebih dari 25 – 40 ribu rupiah.

Si teman ngotot dan tampak kesal, dia bilang gue merepotkan dan okay lah.. anggap aja itu AMAL. Kata si teman berlalu…

What??!! charity my ass!!???

Lo yakin ngomong pakai perasaan dan otak. Dengan terpaksa gue ungkit-ungkit deh hal-hal yang menyebalkan dari dia, karena lama-lama gue gerah juga,- dia selalu merasa innocent, dan gue tokoh JAHATnya.

Waktu di Kamboja, gue ‘pinjamin’ pulsa Kamboja supaya dia bisa nelpon lama-lama ke keluarga nya, gue minta ganti gak???

Di Singapore, karena dia lama banget ngeluarin duit dari dompet untuk beli tiket MRT dari ticket machine padahal kita mengejar kereta terakhir, tanpa perhitungan gue mengeluarkan uang kertas 2 dollar. Minta gantikah gue???? Di lupain aja kan….

Lalu, ini kebodohan dia yang sangat nyata dimata gue. Di hari terakhir kita di Saigon,- gue bilang ke dia.. Jam 3 kita harus sudah check-in di bandara, so… by 2.30 pm kita ketemu di hostel ya.. jangan sampai telat.

Karena kita beli tiket berdua, maka si teman lah yang memegang copy an tiket. Untungnya, gue selalu menyimpan Back-Up ticket di flash disk yang selalu gue bawa-bawa just in case terjadi sesuatu.

Yup benar, sudah hampir jam 3 sore, si teman nggak nongol-nongol. Gue check tas dan belanjaannya masih tergeletak rapi di pojokan left baggage hostel. Gue tanya resepsionis hostel apakah dia melihat teman gue, jawabnya NO.

Gue whatsapp, dan panggil di Facebook, sepertinya dia lagi di luar jangkauan. Akhirnya gue berlari ke computer hostel dan nge-print tiket dari flash disk gue. Si resepsionis hostel bilang, sebaiknya kamu pergi duluan aja. Katanya, dari hostel ke bandara kira-kira 30 menit, itu kalau nggak macet. Ahhhh…… lalu si resepsionis nelpon taksi untuk gue. Pukuk 3 kurang gue naik taksi menuju bandara.

Di pikiran gue saat itu, si teman yang biasanya sering nyasar atau no idea dimana kita berada, mungkin saja dia NYASAR!!!! Oh no, gue gak bisa menunggu.. kalau dia nyasar, dan gue ketinggalan pesawat gara2 dia.. KONYOL dong. Sedangkan gue harus meeting dengan seseorang hari esoknya di Singapore. Jadi, memang nggak bisa telat. Beli tiket Saigon – Singapore hanya 700 ribu rupiah saat promo, kalau gue beli in last minute bisa 2.5 jutaann rupiah….

Gagal deh, predikat backpacker gue, traveling dengan biaya seminim mungkin.

Saat duduk di taksi seorang diri, akhirnya gue baru menyadari kalau flash disk gue ketinggalan di computer hostel. Argggghh shit, muthafucka…..!!!!!!!!

Isinya data-data penting yang sebagian gak ada back up di laptop gue. Sudah deh.. relakan, gue hanya terduduk lunglai di kursi bandara, nggak nyangka… petualangan gue ke Indochina harus berakhir dengan ninggalin flash disk di hostel, yang isinya sangat penting. Gue gak peduli dengan harga flash disknya. Data-datanya yang bikin nyesek!!!

Dan, selama gue traveling sendiri… nggak pernah gue ninggal-ninggalin barang. Kok punya travelmate dari Indo bisa runyam begini.

Kembali ke percakapan di Facebook;

Gue: Okay.. gue anggap aja gara-gara lo yang gak bisa on time, lalu gue ketinggalan flash disk gue  di hostel itu amal yaaaaaaa…

Jawabannya yang menurut gue nggak tau diri: “Siapa suruh lo ninggalin gue!!!?????”

Hah… kok harus lo yang NYOLOT. Normalnya, orang kalau telat dan nggak nepatin janji itu, serta bikin flash disk gue ketinggalan.. Ngomong MAAF kek,, prihatin… , mungkin itu udah cukup mengobati kekesalan gue ke lo. Eh, ini… dibalas dengan cengengesan dan tawa gak jelas, dan siapa suruh gue ninggalin lo!!!

Lalu, dia mulai mengeluarkan asumsi pribadinya. Kalau gue ini manusia egois, nggak punya teman main .. (hello, kita udah gede, jujur. gue nggak punya waktu main-main hari ini. Teman gue tersebar di 5 benua, dan yang menjadi ‘teman main’ gue hari ini.. klien dan calon klien.)

Dan hal yang paling menyebalkan, sok tau banget dia, mengatakan gue nggak punya teman main?? Dimana aja gue bisa berteman (TERBUKTI). Di setiap Negara yang gue kunjungi biasanya gue selalu punya teman baru baik lokal atau orang asing. Nah, sedangkan dia… ketemu traveller di luar,- hanya cengengesan gak jelas, keluar deh dari your comfort zone, jangan berteman dengan teman gereja atau seputaran Jakarta aja…. perluas pergaulan,biar nggak kaya’ katak dalam tempurung.

Dan dia bilang, itukan travelmate. Itu mah basa basi doang.

Dangkal banget kalau menurut dia travelmate ketemu di jalan hanya basa basi. Banyak travelmate gue yang menjadi teman akrab gue sampai sekarang. Bahkan gue belajar banyak dari travelmates. Dibanding gue harus focus ke dia, hanya mendengar keluhannya atas ke ignorance-nya kenapa kita harus pakai rok/celana panjang ke Angkor Wat!!!!??? Atau ke kuil-kuil yang banyak tersebar di Indochina.

Jujur sih, memang gak zaman memberi label antara ‘traveler’ vs ‘tourist’. Tapi menurut gue ini seperti karakter ‘tourist’ yang jalan-jalan menggunakan travel agent dalam rombongan besar, tanpa mempelajari budaya setempat, yang sangat nggak peduli dengan keadaan Negara yang akan kita kunjungi. Yang dipelajari hanya dimana tempat shopping murah di Siem Reap, Bangkok atau Saigon.

Peribahasa Minang berbunyi; ‘dimana bumi dipijak, disanalah langit di junjung’. Nenek moyang gue orang Minang, pengembara sejati. Meski mereka mengembara keujung dunia pun, sampai sekarang nggak pernah terdengar orang Minang tukang rusuh di tanah perantauan. Yang ada, orang Minang datang dan membangun ekonomi setempat, menjadi kepala negara di Negara orang, menghargai budaya lokal.

Itulah karakter pengembara, traveller, explorer. Kalau kita mengunjungi kuil, mesjid… berpakaian lah yang sopan. Nggak susah kan. Kenapa harus ngedumel dan nunjuk-nunjuk turis lain yang bercelana pendek?? Emang kita harus ikut-ikutan mereka yang ‘gak tau diri’. Gregetan gue dengan gerutuannya di Angkor Wat,

Teman: tuh… tuh.. tuh yang itu.. pake celana pendek, kalau tau gitu gue juga pakai celana pendek…

Gue: Pfhhhh!!!

Kata Teman; “Travelmate ketemu di jalan hanya basa basi doang??”

Mau tau pengalaman gue dengan travelmate belahan dunia sana??

Gue punya travelmate dari Berlin (beberapa orang) yang sampai sekarang masih mejadi teman ngobrol yang renyah, berwawasan….. tukar pendapat dengan orang luar itu jauh lebih ‘berisi’ dibanding gossip-gosip nggak penting dengan teman kuliah-an.

Waktu di Malaysia, gara-gara travelmate dari Berlin,- gue menghasilkan ribuan ringgit dari project desain. Padahal gue lagi traveling dan ngasilin duit dinegara stopover, Digital Nomad!!!!!

Yang mengenalkan gue dengan klien Malaysia ini, teman dari Berlin. Hanya travelmate, stranger yang gue ajak ngobrol saat breakfast di hostel Singapore saat dia lagi weekend getaway di Singapore.

Dan beberapa bulan yang lalu, si teman dari Berlin ini juga ngasih gue project. Yiehaaa… hanya gara-gara travelmate, berguna bagi karir gue kedepan. Tentunya gue senang, mempermanis portfolio gue bikin project based in Berlin, JERMAN.

Dulu, pernah punya travelmate dari Frankfurt. Tapi dia orang Jerman keturanan Persia (Iran). Selama di Hostel, dia mengajari gue teknik-teknik fotografi dan mengijinkan gue menjepret dari kamera DSLR nya yang seharga hampir 25 juta.. (tangan gue gemetaran memegang kamera semahal itu)

Lain lagi dengan travelmate dari Norway. Karakternya unik karena kebanyakan nyimenk. Hahah… tapi dia baik banget, yang sering nanya kapan gue ke Norway untuk melihat Aurora Borealis.

Punya travelmate dari Prancis yang sedang mempelajari suku asli di Bruney, gue suka mendengar cerita2nya, penelitiannya tentang suku-suku di Borneo… pola pikirnya yang rumit karena thesis S3 nya yang bikin kerusakan otak.. heeeheee …

Lalu ada lagi travelmate dari Italia, yang dari Saigon sampai sekarang kita selalu ngobrol dengan berbagai macam topic. Hey, ….. dari travelmate yang tersebar diberbagai belahan dunia, gue jadi mengenal manusia dari berbagai bangsa.

Ngapain juga gue harus fokus sama lo yang nggak bisa diajak berkomunikasi secara sehat, yang ada nyolotin. Contoh, gue ngomong tentang topik A, yang gue harapin dia ngasih opini dia sendiri sesuai dengan wawasan yang dia miliki… eh yang gue terima hanya satu kalimat pendek nyolotin. Travelmate apaan ini????!!!!!

Kalau si teman ini nggak bisa berinteraksi dengan manusia dari beda bangsa dan Negara, jangan merasa inferior dengan mengata-ngatai gue sok dan sombong, sok luar negeri.

Si teman selalu membawa masa lalu gue dengan teman-teman di Jakarta. Yang sejak kepindahan gue ke Singapore, mereka memang sangat gak welcome ke gue. Gak semuanya, ada beberapa.

Yahhh… kehidupan gue sudah nggak di Jakarta lagi. Gue udah go international (oops).  Bisa di liat, teman-teman gue dari berbagai bangsa yang rata-rata gue temui di Singapore yang selalu akrab dengan gue, memberi gue dukungan and stuff. So,  teman-teman Jakarta yang nggak welcome ke gue itu hanya masa lalu, kita nggak hidup di masa lalu kan. Move on.

Masa depan gue, teman-teman dari mancanegara yang bisa menerima gue apa adanya tanpa menyudutkan dan mencari-cari kesalahan gue, selalu fun dengan gue, dan sangat tulus dengan gue.

Terbukti, waktu gue mendapat beasiswa summer course ke Belanda, sebagian besar yang ngasih selamat adalah teman-teman yang gue temui di Singapore.

Dalam pertemanan, kalau mau melihat teman mana yang tulus dan berhati baik, adalah teman yang bahagia saat kita meraih sukses. Bukan teman yang diam-diam bahagia saat kita terpuruk atau gagal.

Itulah yang gue pelajari tentang persahabatan sejak hidup berpindah-pindah dari Padang, Jakarta, Singapore, Malaysia……. dunia….

Si teman selalu bilang gue egois,- yang bagi gue, egois bukan kata yang tepat. Dalam interview kerjaan, biasanya kita akan dikasih lembaran kertas yang kita disuruh menandai sifat mana yang mirip dengan kita.

Gue akui, Singapore mengubah gue menjadi orang bertipe choleric. Gue memang nggak suka hal yang menye-menye, kalau mengambil keputusan biasanya, gue selalu cepat,- kalau teman gue nggak punya opini gue yang akan mengambil keputusan tanpa babibu karena gue nggak suka menanti hal yang nggak pasti. Menurut si teman, ke mandirian gue dalam memutuskan sesuatu adalah sifat egois. Buh!!

Pernah sadar nggak kalau di Singapore semua serba terburu-buru, milih makanan di foodcourt harus cepat, naik bus harus cepat, ngomong harus cepat dan jelas kalau nggak bisa dibentak-bentak dengan atasan, jalan harus serba cepat, bahkan orang yang sudah selesai makan difoodcourt saat peak hours tapi masih duduk-duduk nyantai akan diminta  considerationnya untuk membagi meja dengan orang lain,- hidup di Singapore kita diminta untuk cepat mengambil keputusan.

Contoh lain yang bikin darah gue mendidih, – di Angkor Wat, kita kenalan dengan traveller dari Malang. Karena fakir wifi, kita yang janji akan bertemu untuk dinner di suatu tempat dan harus menentukan kapan kita ketemu dan dimana. Si teman dari Malang bilang dia lagi di depan curry walla dapat wifi gratis nih bentar, yang kebetulan gue ingat tempat itu karena tadi sore lewat tempat tersebut saat bersepeda dan gue bisa memperkirakan, dalam waktu 20 menit gue akan tiba di TKP😉

Tentunya dengan mencuri waktu 5 menit untuk beli tiket ke Saigon. Yang gue perkirakan hanya memakan waktu 5 menit. Ehhhh, si teman dengan nyantainya bolak balik membanding-bandingkan tiket ke 5 travel agent yang berbeda dan memakan waktu lebih dari 13 menit.

Gue kesal, dan mulai marah-marah karna membiarkan si teman yang dari Malang nungguin kita dipinggir jalan.

Teman; telat beberapa menit aja apa salahnya sihhhh???

What the fuck?? Seeeee.. gimana cara deal sama orang yang nggak ngargai waktu bahkan ngaret ke Bandara. Mungkin gue harus berterimakasih dengan Singapore yang sudah mendidik gue pentingnya menjadi On Time. Di Singapore, kalau lo janjian sama seseorang PLEASE BE ON TIME, MESKI 3 MENIT mereka nggak akan tolerant dengan kata telat,.. orang Singapore akan benci dan menganggap lo nggak ngargai mereka kalau lo telat. Dan kalau udah telat, langsung minta maaf jangan pasang tampang tidak bersalah atau ketawa-ketawa. Jangan kaya’ anggota DPR di Berlin yang udah telat masih nyantai, ngutak ngatik HAPE.

Setelah telat lebih dari 15 menit, gue berjalan terburu-buru ke Curry Walla sebuah restoran India di Siem Reap tempat meeting point gue dengan teman dari kota Malang. Di tengah perjalanan, si teman dari Malang tiba-tiba berlari untuk mencegat gue. Masih jauh dari Curry Walla.

Si teman dari Malang: Ahhh.. untung keliatan.. kalau nggak kelewatan deh..

Jadi, malam itu nasib baik si teman baru ini cukup jeli melihat siapa yang lewat ketika dia lagi makan diemperan dekat trotoar. Kalau nggak, yah.. mungkin pertemuan kita malam itu gagal.

Bagi gue, bersosialisasi dalam traveling merupakan hal menarik, gak peduli apakah itu hanya basa basi, short term friendship. Gue suka bertemu orang asing dan mendengar cerita-cerita mereka dalam perjalanan, menurut gue kegiatan ini jauh lebih menarik daripada nawar-nawar barang di pasar malam. Sedangkan, menurut teman gue ini Aneh. Menurut gue, this is us, the traveller.

Disini gue menyadari, perpisahan gue dan si teman dari tahun 2004 telah mengubah banyak hal dari kita. Yang menurut gue, kita sudah tidak KLIK lagi, apalagi dalam traveling. Atau ini lah aslinya si teman.

“ehhh ada bule, foto yukkkkk” #shitindonesiansays

Hashtag ini pernah jadi trend di Twitter beberapa waktu yang lalu. Masih dalam rangka membela diri dan menyudutkan gue, si teman mengungkit-ungkit kalau gue menyebalkan dalam Kasus di Pattaya, karena gue nggak mau moto-in dia yang mau berfoto dengan bule berbikini.

Yaaahhh, please deh… hargai dong hak gue untuk nggak mau moto-in teman yang agak norak mau difoto dengan bule yang lagi asik-asik berjemur, almost naked.

Gue jawab dengan asal-asalan: ‘Ogah ahhh.. kaya’ gak pernah ketemu bule aja lo.’

Pada akhirnya, di facebook chat gue jelaskan,- gue sering jalan sama traveller dari Eropa. Mereka sering menertawakan orang Asia yang norak minta di foto-foto dengan bule. Gue bilang ke mereka, enjoy aja your time in SEA, lo seperti selebriti Hollywood disini, kapan lagi….  5 minutes of fame!!!

Si teman Swedia yang pernah jalan-jalan ke Indonesia dan nggak pernah ke Negara berkembang sebelumnya nanya ke gue, kok mereka mau foto bareng kita sih. I dislike that, It feels like I have no privacy.

Gue ngerti, bule juga manusia biasa,- mereka butuh ketenangan.

Dan ada lagi kenalan berkebangsaan Prancis-Inggris yang menulis di blognya, ngeledekin bagaimana noraknya orang Indonesia karena rebutan mau foto-foto dengan dia saat dia lagi di Jogjakarta.

Gue kutip blognya yang bikin gue sangat malu membacanya;

‘However, as we were standing in the street, taking a picture of this statue, a group of kids come up and ask for a photo with us. That’s fine, we’ve been asked before so we agree. OMG. Not only does that group want 50 different shots with 10 different cameras but every other person walking along the street sees the photo shoot and is emboldened to ask for their own photo. I kid you not, we spent 20 minutes having our photo taken with 10 different groups of people. I wonder what they do with these photos, post them on Facebook with the caption ‘look everyone, a white person!’ ?? ‘

Si teman perjalanan ini pun masih membela diri, jadi turis Korea yang foto-foto dengan orang Thailand di Tuk-Tuk itu norak??

Kalau itu beda kasus. Mereka lagi di tuk-tuk dimana hal yang gak wajar dinegaranya yang super maju, para penumpang bergelantungan di mobil yang sedang berjalan. Dan mereka bukan dalam posisi santai seperti bule yang hampir bugil lagi menikmati matahari pagi Negara tropis. Hargai dong privasi mereka.

Dan ingat, Bule vs orang Asia itu karakternya jauh beda. Orang Asia itu lebih cincai dalam segala hal, orang bule sangat kaku dan menjunjung tinggi privasi. Contoh, di Jakarta, orang kita seenaknya nyubit-nyubit pipi anak bule, di budaya kita.. si ibu akan tersanjung anaknya disukai.. kalau bule, mereka akan marah atau kesal bayinya dicubit-cubit pipinya.

Orang yang minta foto-foto dengan bule tanpa kenal si bule yang bersangkutan menurut gue sangat naive. Ini melihatkan karakter orang Asia Tenggara yang sangat Colonial Mentality. Check di google apa itu Colonial Mentality, kalau lo nggak tau.

“Gue tau lo jago moto.. tapi lo jangan ngecilin gue, kalau foto-foto yang gue ambil buat lo hasilnya nggak bagus”

Karena menurut gue, lo motoin gue seperti orang nggak niat. Mencong sana sini, kepotong-potong, atau miring. Sedang anak Kamboja atau Mamang-mamang di Gunung Bromo aja bisa ngambilin gue foto yang bagus, artistic.

Gak perlu ber IQ tinggi atau punya kamera keren untuk moto-in orang dengan baik dan benar. Tapi kesungguhan, jangan asal-asalan.

Ya iya dong gue delete foto yang lo ambil straight away. Ngapain foto yang miring dan mencong sana sini menuh-menuhin memory card Hape gue yang hanya 2 GB.

Jadi si teman merasa gue mengecilkan dia karena gue menghapus foto-foto yang dia ambil karena kualitasnya nggak bagus.

Gue nggak hanya bilang foto yang dia ambil jelek, tapi gue kasih saran please jangan miring, tarik dan tahan nafas dulu waktu ngejepret jadi nggak blur, dan perhatiin susunan Layout dengan object gue nya.

Si teman menganggap gue jahat, padahal…… selama kerja di design industry gue sering mendapat kritikan seperti ini. Apalagi senior-senior gue, kalau mereka nggak suka…. mereka akan bilang, haiyyyyoo, what kind of shit is this?? Dan gue nggak pernah tersinggung, harus bisa nerima kritikan dong.

Kenapa dia harus tersinggung dengan keterus-terangan gue. Kaya’nya dia harus deal sama orang Belanda dan Jerman deh, bangsa yang lidahnya paling tajam sedunia. Kalau it’s shit, mereka akan bilang shit dengan sadisnya. Nggak ada kata-kata manis yang munafik. Good, right. Nggak ada whitelies.

Gue: Puas lo nyari-nyari kesalahan gue?? Sepertinya lo yang disakitin… tersiksa..??

Waktu si teman ini  pertama kali mendarat di Kuala Lumpur, gue bersama teman KL menjemput dia dengan mobil teman KL gue.

Setelah gue kenalin ke teman KL gue, si teman KL sebagai host yang baik, nawarin untuk hangout di sebuah tempat makan.

Kalau yang ngajak si tuan rumah, harusnya kita sadar dong. Ini pasti bakal dibayarin. Si teman Jakarta ini nggak nyadar padahal gue hanya mesan teh tarik, sedangkan dia mesan satu makanan dan dua minuman yang berbeda. Heran deh.. Kok lo nggak sensitive sihhhh.

Gue aja nggak enak ngebebanin teman KL gue, kok lo yang baru kenal beberapa menit dengan teman gue bisa begini. Dan gue gak pernah protes dengan kelakuan lo yang kurang sensitive ini!! Yee, giliran nyari-nyari kesalahan gue dia sangat gencar. Tapi kekurangan sendiri nggak nyadar…

Gue nggak tau bagaimana cara dia berteman. Yang gue tau, dia aktif di gereja dan punya teman gereja. But pleaseeeeeeeeeeeee…………… kok gak mengenal istilah basa basi sih.

Contoh lain, gue punya teman dekat Belanda. Waktu gue bilang gue mau ke Belanda, gue nggak pernah bilang.. boleh yaaa gue nginap dirumah lho. Tapi gue nunggu dia mempersilahkan gue untuk jadi tamunya, karena meskipun si teman Belanda ini udah jadi teman akrab gue, siapa tau dia keberatan. Who knows?? Atau lagi sibuk.

Waktu mendarat di Belanda, gue minta si teman Belanda untuk ketemu di tengah-tengah aja (Utrecht)  karena gue tau minyak dan tempat parkir di Eropa mahal, kalau dia yang rumahnya di Tilburg, selatan Belanda harus nyetir sampai bandara,  akan sangat merepotkan, dan buang-buang minyak.

Dan waktu dia mentraktir kita (gue dan Partner) sarapan pagi disebuah kafe pinggir kanal, gue hanya mesan secangkir kopi karena gue tau, pasti dia yang akan bayarin sarapan pagi ini. Itu udah aturan tidak tertulis.

Nggak enak banget manfaatin teman lalu minta tumpangan tidur, makan gratis, dan senang dengan hal-hal yang gratis… Begini cara gue berteman dengan manusia berbagai bangsa.

Gue nggak tau cara teman gue. Mungkin dia fine-fine aja atau merasa itu udah tugas tuan rumah ntraktir kita.

Waktu gue ungkapin kasus ini, si teman malah nggak nge gubris.. Cape deh!!!

Sampai ngata-ngatain gue nggak waras dan ‘aneh’ pula. Nggak pernah deh gue dikata-katain sampai segininya, eh malah sama teman yang udah gue ajak traveling 5 negara ala backpacker. Padahal dia juga jarang traveling, alasannya nggak berani traveling sendiri.

Udah di ajak traveling cara yang independent bukan jalan-jalan seperti teman gerejanya dengan serombongan turis grup, kemana-mana dengan bus wisata.. kaya’ anak TK dibimbing kesana sini….. eh malah ngedumel. (makan hati deh)

Kalau belum pernah merasakan naik angkutan umum Negara destinasi menurut gue itu belum benar-benar singgah di negara itu. Seperti turis-turis lugu yang selalu mengandalkan bus pariwisata, dan sering lupa apakah kita pernah kesini karena nggak nmerasakan mutar otak harus naik transportasi umum di Negara asing, di Kamboja pula, di Negara yang gun fight bisa terjadi kapan aja.

Note to self: No more deh, traveling dengan travelmate from hell. The best of luck to you….

Gue udah benar-benar mati rasa dengan teman yang hanya bisa mencari-cari kesalahan orang lain, tanpa melihat sisi positif dari sebuah perjalanan.

9 thoughts on “Travelmate from Hell

  1. Sedih nggak sih mesti pisah dg sahabat lama? Mungkin enggak ya, kalau masalahnya sudah sampai segitunya. Saya sedang ‘menjauh’ dg sahabat mungkin dg alasan yg dianggap aneh, karena sahabat saya itu ‘dingin’ hehehe. Setiap mau ketemuan pasti deh saya yg berinisiatif ngajak duluan. Udah gitu dia ngaku nggak pernah baca blog saya, tapi detil-detil mengenai saya yg nggak pernah saya ceritain dan cuma muncul di blog, kok dia tahu? Dia SMS cuma dg pertanyaan lagi di mana? saya yg membuat percakapan berjalan lancar, saya yg ngajak ketemuan, terus dia bilang ok, janji mau SMS, tp terus enggak, dan tidak ada penjelasan apa2. Saya tahu dia ngarepin saya yg SMS lagi duluan. Eh… ogah ah. Terus waktu saya unfriend dia di FB mulai deh dia blingsatan. Kemarin dia SMS lagi cuma bilang lagi ngapain? Kenapa gak bilang misalnya, eh udah lama nih nggak ketemu, kita ketemuan yuk? Dia orangnya rada nggak pede, saking takutnya dapat penolakan dia selalu menunggu orang lain utk ambil inisiatif. Tapi saya udah nggak mau jadi baby sitter nya terus2an. Saya gak marah kok sama dia, cuma mungkin saya sekarang cenderung dg orang2 yg lebih spontan dan nggak takut2 hehehe. Tapi ngomong2 kamu lbh beruntung krn bisa curhat di blog, saya nggak bisa soalnya tema blog saya nggak memungkinkan hehehe

    • Hi zora,
      yang udah2 kalau saya udah benar2 ilfil dengan teman atau ‘cowok’ pun akan sangat mudah untuk menjadi mati rasa atau gak pedulu lagi, meski mereka masih di fb.. saya anggap gak ada.

      Apalagi teman yg terlalu banyak berpura2. Saya heran deh, kayaknya gak teman kamu itu aja yg pura2 gak baca blog kamu.. teman saya pun begitu.. keliatan dari cara dia ngomong, dia pernah baca yg pernah saya tulis…

      Menurut saya orang seperti itu bukan sahabat.. tapi hanya somebody I used to know aja deh…

      Waktu di perjalanan, dia selalu nyuruh2 saya nanya ini itu.. dan saya bilang.. bisa gak kamu tanya sendiri.. dia memang gak pede..

      Dan karena hanya hidup dijakarta.. dia sering takut2 kalau mau ngomong bahasa inggris.. karena takut salah.. dan orang2 di jakarta atau indo biadanya kan sering nyela2 kalo salah ngomong inggris.. dan saya gak pernahngeledekin.. malah diam2 saya cerita ke dia untuk ngeboost pede nya… eh saya punya travelmate dr jepang. Dia gak bisa bahasa inggris tapi sampe ke australia selamat2 aja traveling. Saya ngomong gitu agar dia gak merasa minder… ehhh…. belakangan dia minta saya untuk lebih rendah hati… lucu nggak…

      Mungkin harus saya tulis sekuel keduanya…..

      Kadang kita gak harus makan hati karena teman.. friends itu come and go easily.. apalagi kitavyg hidup berpindah2… teman kayak gitu dijsuhin aja de .. dibanding kita yg stress.. teman gak hanya dia….

      Mungkin kamu bikin blog satu lagi yg lebih universal bisa ditulis macam2…. ntar kasih tau yaaa nama blognya😉

  2. Bikin blog satu lagi? Memang udah kepikiran sih, ntar aku kasih tahu deh kalo udah jadi.
    Nah, ini kelanjutan ceritanya… Karena SMSnya yg terakhir nggak aku bales, temenku itu nelpon. Aku jaga percakapan supaya netral dan basa basi aja, pengen tahu apa aja yang pengen dia omongin. Akhirnya dia nanya, ‘kamu nggak pengen ketemu sama aku?’ Dalam hati aku mikir, kok nggak langsung aja bilang kalau dia pengen ngobrol dan ketemu? Kok gengsi banget sih cuma buat ngomong gitu aja. Hahaha, ya geli, ya kesel, ya kasihan aku sama dia.😀
    Ngomong2 apa yg ada di postingan kamu ini bicara ttg banyak hal yg juga udah ada di pikiranku. Tentang pertemanan, tentang lamban dan kebiasaan ngaret, ttg foto2 sama bule hehehe.

    • Kalo dalam bahasa padangnya, sikap teman kamu itu; pantang diarok.. haha… kalau aku sih lebih suka blak blakan ngomong ke dia.. jadi dia tau dan kita tau gimana kelanjutan dan reaksinya…

      Yang ngaret, foto2 sama bule bagian dari tipikal indo banget… yg lucunya, kalo kita on time dia mengira kita kaku dan serius banget… sigh

      Dan ada lagi, ini akan kutulis di sequelnya deh… aku berteman.. dgn macam2 agama… roomate aku pun dulu silih berganti dgn agama yg berbeda2.. tapi aku gak pernah ketemu dgn tipikal indo yg religious freak.. bawa2 bible mini selama traveling… aku gak protes.. tapi risih aja.. apalagi waktu di minivan ke perbatasan kamboja kita satu2nya orang asia diantara eropa.. tau dong gimana reaksi org eropa ngeliat siteman baca2 bible di perjalanan… aku risih ntar dikira aku dan dia misionaris dari asia….. nah yg gini2an nggak pernah aku protes ke dia …

      Kalo aku sih lebih suka dia baca buku2 yg universal di perjalanan jadi kita bisa ngobrol2 ttg buku itu dibanding bible…. syerem deh😉..

  3. Pingback: sebuah cerita tentang banyak cerita | my unspoken mind

  4. pantang diarok itu maksudnya percuma diharapkan, gitu? hahaha
    iya, aku udah ngomong kok ke dia cuma tinggal tunggu gimana reaksinya nih

  5. Pantang diarok itu mirip2 orangnya yang mau diharepin mulu.. kaya’ teman kamu itu🙂 good luck deh dengan reaksinya…..
    dalam buku the kite runner, si baba pernah berujar seperti ini…
    ‘But better to get hurt by the truth than comforted with lie’ … lebih baik terang2an daripada kita pendam meskipun truth ttg siteman mungkin gak sesuai harapan dia, at least, jiwa kita tenang.. hehe

  6. pantang diarok itu bahasa minang tingkat tinggi kali ya, soalnya jawabanku salah hahaha.
    bener tuh Si Baba. yah, mungkin ada salah di pihakku juga krn aku gak bilang dari dulu2. sebenarnya persoalannya lbh banyak dari yg udah aku sebutin. aku bilang semua deh sama dia, dan seperti kuduga jawabannya cuma ‘ah masa sih’, ‘itu cuma perasaan kamu aja’, ‘kamu cuma berprasangka’. Sebagai kesempatan terakhir aku todong dia dg ajakan memberi penjelasan, kalo hasilnya negatif ya udah… bye bye deh.

    • baru buka blog nih…..
      hehe, bahasa minang itu puitis… pantang diarok kalao diterjemahin ke Indonesia pantang diharapin, tapi artinya malah njelimet… pernah nyadar gak sih…. rumah makan minang, nama2nya juga sangat puitis..
      contoh nama Rumah Makan Padang/Minang
      Lamun Ombak, Aie Badarun (air terjun yang bunyinya gak pernah berhenti gitu), Restu Bundo, Saba Mananti (sabar menanti… di Singapur inia)…. apa lagi yaaa

      friends itu come and go, kalao kita udah gak sejalan lagi.. aku sering menghindar atau menjaga jarak…. Kalau aku pribadi, nggak mau teman yang bikin aku makan hati… mangkanya, aku posting tulisan ini di blog FB dan blog ini yang rata2 teman aku gak tau alamatnya… Mungkin beberapa bilang aku tega banget ya sama teman, ngebeberin kenorakannya dalam tulisan.. nah di pikiran aku, dibanding dia ngomong dibelakang aku ke teman2 yang lain dengan versi dia.. mending dia yang aku bikin makan hati dibanding harus aku yang makan hati…. (bukan hati ayam soalnya.. haha)

      Kadang.. kalo aku pikir2.. aku memang sering kejam kalau orang tersebut udah ngecewain aku… :))

      masih banyak teman dilautan yaaa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s