Indo banget!!


{This entry is in Indonesian}

Peringatan; dibaca dengan pikiran terbuka dan hati yang lapang, ini hanya refleksi, observasi dilapangan selama hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, dan berintegrasi dengan budaya yang beraneka ragam.

Judulnya Indo Banget. Istilah ‘Indo banget’ ini tanpa bermaksud menyinggung ‘Indo’ dan segenap warganya, hanya istilah ini sering banget kita ucapkan tanpa sadar atau sadar.Gue yakin, berawal dari anak-anak Indo yang sedang atau pernah hidup di luar, dengan sesama mereka sering banget nyeletuk…‘haha, Indo banget!!!’ >> mungkin ini masuk dalam kategori ‘shit Indonesians say’

Kadang,- bagi yang lagi sensitifnya kumat atau nasionalis banget, bakal nanya dengan sinis; ‘emang nya indo itu kenapa??’ hah hah, definisinya luas bisa bermakna konotasi dan denotasi, luass deh.

Gue kutip,- ‘It doesn’t matter where you go, it doesn’t matter how long you stay away from your home country, if you will ever return or not – you will never be the same again, and you will never see your home place with the same eyes.’

Intinya, ketika kamu ninggalin negara kamu, berintegrasi dengan budaya baru, kamu akan melihat negaramu dari berbagai sudut pandang,- tidak hanya 1 sudut pandang, tapi 4, sampai 7, berdimensi dan seterusnya.

Salah satu kasus yang ‘Ngindo banget’, contoh pertama;

Lagi ketemu teman lama disuatu tempat, Teman lama: “eh lo,.. ” celingak celinguk nyari-nyari entah siapa ” sendirian??” atau “sama siapa kesini??”

Ngindo banget kan??? Coba kalau lagi sama non Indonesians, nggak pernah menemukan percakapan beginian. Orang Indo itu memang sering aneh kalau melihat orang yang kemana-mana ‘sendirian’, kaya’nya menjadi ‘sendiri’ itu menyedihkan…..

Kalo sama temen non Indo paling begini templatenya;

Temen non Indo: “hey, how’s life”

Gue: “heyyyy, I’m  good….. and you” 

Saling bertatapan dengan senyuman basa basi

Temen non Indo; Jawaban basa basi pula.. bla bla ble ble blo blo…..blo on!!!  gitu dehhh…

Tapi, sederhananya benerkan, ngapain juga nanya-nanya sama siapa?? Emang gue putri raja, kemana-mana harus diikuti dengan dayang-dayang, atau kalau bagi yang cowok harus disertai bidadari??  Sejauh pengamatan gue, hanya sesama Indo gue menemukan pertanyaan; “Sendirian??”

Mungkin itu basa basi yang Ngindo banget aja.;)

Contoh kedua dari ‘Indo banget’. Dibawah ini adalah percakapan antara temen dan gue;

  • Gue
    • hidup di padang juga super bosan
    • gak ada bioskop yg bermutu
    • adanya bioskop ecek2..yg filemnya…. pocong2an… lalu ruang bioskopnya gelaaaaaapppppp bgt, …….
    • diniatin banget sama pemilik bioskop buat anak muda grepe2…
    • lebih sopan bioskop di singapore atau belanda…. teranggggg benderangggg!!!!
  • Teman
    • jomblo sih
    • makanya ga bisa grepe grepe
  • Gue
    • arrrgghh… jawabannyaaaaa… indo banget!!! 
    • sebenernya bukan jomblo
    • menopos, nggak tertarik

Sensor, nggak perlu lebih detil dari sepenggal percakapan kurang penting diatas

contoh lainnya;

“bete amat, Jomblo sih”

“Serius amat, pantas jomblo”

“Jomblo yaaaa??? Sensi banget!!!”

“Nggak heran lo Jomblo???”

Ngindo banget disini, sepertinya there’s something wrong with being single in Indonesia. Kenapa orang Jomblo selalu dijadiin kambing hitam. Dan sepertinya, ini hanya di INDONESIA. Ha ha, Indo banget kan????

Kalau lagi sama non Indonesians, mana pernah dengar yang beginian.

Padahal, nggak ada yang salahkan menjadi Jomblo, kenapa di mindset orang kita,- jomblo itu seperti sebuah kutukan. AIB yang besar dan memalukan. Padahal, hey… Menjadi Jomblo itu berarti Freedom, nggak pusing mikirin hal-hal drama bego lainnya, bisa bebas berkarir tanpa kompromi dulu begini begitunya, bisa traveling sendiri tanpa nunggu kesepakatan lo kapan cuti,- lo kapan bisanya, nggak perlu cemburu-cemburuan, bisa punya waktu banyak untuk diri sendiri,- menekuni hobi atau bakat yang terpendam, dan masih banyak lagi.. so? why is it bothering you, guys??

Kalau temen non Indo gue malah sering bilang; ‘man, If I dont need to have girlfriend… life would be great, freeeeeeee!!!’

hahahahah…….. Beda ya?? Kalo di Indo semuanya harus serba lebay, dan pokoknya ‘dunia harus tahu’, maksudnya harus diproklamirkan di facebook, status, setiap langkah percintaan harus terbit di facebook, di twitter…. di blog!! Pokoknya, infotaikmen banget deh!!!!!

Contoh ketiga;

Lagi makan siang dirumah makan Padang, di kawasan Kandahar street, Singapore. Berbagi meja dengan 3 orang anak muda Indonesia. Uhhm, jadi berempat kalau gue termasuk. Tapi,- gue pura-pura nggak ngerti Indonesian, jadi sambil makan diam-diam menyimak pembicaraan mereka.

Indo 1: “Duh Singapore panas banget!!! “ *sambil memasang kacamata hitam yang tadinya hanya hiasan doang dikepala* Posisi meja kita diteras, jadi memang terkena siraman matahari dengan kemiringan 45 derajat, dilindungi atap yang miring.

Indo 2: “helaah, bilang aja lo emang mau gaya-gayaan…. tuh kacamata hitam baru yaa???”

Indo 1: “Merhatiin aja lo….”

Indo 3: “Gaya amat looo, berkaca mata hitam…… “

Semua percakapan diatas, termasuk percakapan yang Ngindo banget, tapi yang ‘klimak’nya; “Indo 3: Gaya amat looo, berkaca mata hitam…… ”

Hanya di Indo deh, tipikal percakapan yang mengarah-arah ke Peer-Pressure. Kenapa si Indo 2 dan Indo 3 protest kalau si Indo 1 mau pakai kacamata hitam. Kenapa mereka harus sibuk, kan yang pakai kacamata hitam si Indo 1. Kenapa?? Kenapa???? Kenapa nggak mind your own business aja.

Padahal, gue juga harus pakai kacamata hitam kalau di Singapore. Karena panasnya gila!! bikin silau man, lagian kalau peduli dengan kesehatan mata, dinegara tropis memang dianjurin pakai kacamata hitam. kalau nggak, siap-siapin aja duit buat operasi katarak diusia 50-an keatas.

Sewaktu di Indo gue coba-coba mengenakan kacamata hitam naik metro mini. Bagaimana reaksinya???? Ngggak perlu dijelaskan lagi deh!!!! Gue sih cuek aja, gue yang punya mata, tapi gue tau. Mereka pada banyak berspekulasi; kalo gue cewek sinting, orang buta, tukang pijat, sok lady gaga …… banyak deh!!

Ini masih kategori contoh nomor 3;

” huh… si itu kan Gay??”

“Apa, cowok lo nggak suka bola… is he gay??”

Ini kembali ke contoh nomor 2 tapi masih kategori contoh nomor 3;  ”ganteng-ganteng nggak punya cewek… pastilah gay”

Mungkin kurang sensitif, mengambing hitamkan jomblo, lalu gay.

Contoh keempat;

Contoh yang satu ini sumbangan dari komentar-komentar di note facebook saat pertama kali topic ini gue publish online. Katanya, orang Indo tuh basa basi saat bertemu tergolong aneh, khususnya bagi para bule. Kebetulan yang ngomong ini cewek Bule.

Orang Indo: “Ehhh kurusan, atau ehhhh gemukan”

Kalau menurut bule kalimat seperti ini sangat tidak sopan, lain hal,- menurut orang Indonesia ini hanya basa basi belaka. Untungnya si temen bule paham tentang ini, beginilah gaya orang Indo.

Sebagai orang Indonesia, gue merasa orang Indo punya pemikiran; sikap heboh, cekikikan, penuh tawa dan guyonan kecil itu penting dan chit chat nggak penting yang kurang sensitive menyinggung masalah fisik adalah hal biasa.

Kalau orang bule, lebih baik diam. Gak heran, banyak orang Indo sering tabrakan budaya berada di luar negri, banyak  orang Indo yang meski sudah lama menetap di Eropa, tapi nggak bisa berintegrasi dengan lokal atau hanya berteman dengan teman setanah air. Bagi kita bule itu ekpresinya, ‘datar’, terkesan sombong dan kasar. Nggak seperti  orang kita yang penuh dengan basa basi, kadang kita tersenyum lebar meskipun dihati mendongkol atau marah.

Kalau di bule, WYSIWYG; What you see is what you get. Apalagi bule Jerman dan Belanda, termasuk bule yang siap-siap aja kuping panas dengerin komentarnya yang benar-benar nggak sopan menurut kita. MENURUT KITA!!

Contoh kelima, mungkin kurang terpuji,- ngebully secara massal di social media;

Orang Indo itu, solidaritasnya bisa dikatakan sangat tinggi. Jiwa kekeluargaannya yang paling kental dari semua bangsa yang pernah gue kenal. Misal, kalau si A punya masalah dengan si B, si temen A kaya’nya wajib ikut campur, lalu si C, D, E sampai Z harus get involved.

Nggak hanya di twitter, facebook,  bahkan di milis. Di zaman socmed ini, dimana generasi Alay bertebaran di twitter, gue pernah speechless sendiri secara tidak sengaja menonton si seleb twit Indo mojokin follower yang nggak setuju dengan twit si seleb. Lalu di RT dengan si seleb twit tersebut dengan maksud tersembunyi minta bantuin,’kita keroyokin nih kunyuk’, , tak beberapa lama kemudian follower fanatic (baca; anak alay) dari si what so called ‘seleb twit ikut-ikutan ngebantai ‘korban’. Sigh. Childish kan, ribut-ribut online padahal nggak tau who is who?? Coba kalau ternyata yang kita ‘bantai’ itu ternyata calon atasan kita di perusahaan masa depan gimana?? Hayoo???

Diluar juga ada kasus bullying, tapi porsinya nggak sebanyak kita deh, di kita bahkan terjadi pada setiap layer, dari anak alay sampai figur publik.

Penggunaan awal twitter yang tadinya bertujuan untuk media marketing, berubah fungsi jadi tempat sampah di Indonesia, dimana para exhibitionist sibuk nge-breaking news kegiatan sehari-harinya, bahkan jadwal PMSnya. Oh man, gue nggak ngerti why do I need to read these ‘seleb twits’ daily random shit.

Sebagian besar teman-teman gue di Singapore, mereka sangat individual, kalau temannya ada masalah dengan teman lain, biasanya mereka nggak mau ikut campur atau malah pura-pura nggak tau. Kalau di Indonesia bakalan dituding begini, ‘what friends are for??’

Mungkin nggak heran tawuran antar pelajar hal yang ‘lumrah’ di Indonesia. Solidaritas, men!! Indo banget…….

Tambahan; Memojokin perusahaan di twitter pun hal yang biasa di Indonesia, bahkan para seleb twitter/selebriti  pun pernah memaki-maki. Karena di Indonesia, consumer adalah raja, sekali produsen berbuat kesalahan, wajib rasanya dimaki-maki di twitter.  Gue cukup merasa ‘reverse culture shock’ menyaksikan situasi ini. Syerem aja gitu, budaya ‘nyolot’ memang biasa buat kita, tapi di Internet?? Perang Twitter sering kita dengar di negara ini. 

Mungkin kita Negara yang baru mengenal kata ‘demokrasi’, sehingga menjadi besar kepala, mengira demokrasi adalah freedom of speech dan freedom of speech bebas memaki-maki si A diruang public. C’mon, dimana letak keprofesionalitasan kalau begitu.

Di Indonesia, social media banyak digunakan untuk saling menyindir dan menjatuhkan. Ouch, grow up…

Contoh keenam, pertanyaan “kerja dimana sekarang??”;

Contoh ini salah satu masukan dari teman gue. Dia bingung, kalau ketemu teman di luar, pertanyaannya;“What  you been up to?? What is it that you do??

Tapi, kalau orang Indo pasti nanyanya;

“Sekarang kerja dimana??”

Gue juga sering kesal saat keluarga jauh, tante, teman bokap selalu nanya pertanyaan ini. Dan padahal, kalau kerja di design Industry,- perusahaannya kan berupa studio, kita sebutin pun mereka nggak bakal puny ide what is it about??? Ekpresinya kering waktu kita bilang kita kerja diperusahaan yang dia nggak tau apa namanya dan tentang apa itu.

Dan mereka bakal senang dengan jawaban, oh si itu kerja di Bank ini, itu,- perusahaan itu cukup familiar bagi mereka. Atau kerja di perusahaan minyak milik asing ini, itu atau PNS.

Contoh ketujuh;

Bahasa Inggris bukan Second Language di Indonesia. Beda dengan Negara-negara tetangganya yang kemampuan berbahasa Inggris mereka hampir merata, karena English as second language.

Pengguna Inggris di Indonesia;

  1. Kebetulan, lahir dari keluarga berada, mampu sekolah bertaraf Internasional, sejak kecil sudah menggunakan Inggris.
  2. Kebetulan, pernah hidup dinegara dimana English is widely spoken
  3. Anak-anak Indo yang pernah belajar dan kerja di luar negri.
  4. Pelajar, meski ada yang levelnya sangat ‘poor’ atau moderate, advance.

Dengan tidak ratanya penggunaan bahasa internasional ini, mungkin timbul pemikiran; bisa berbahasa Inggris kesannya ‘keren’, ‘berpendidikan tinggi’, merasa lebih entah itu lebih tinggi atau lebih bergengsi. Banyak oknum yang merasa bisa berbahasa Inggris sering nyela-nyela oknum lain yang kurang dalam bahasa Inggris, contoh saat pengucapannya aneh, grammar yang kacau.

Bagi gue, yang bahasa Inggrisnya juga jauh dari sempurna, bakalan lebih enak mengkritik kesalahan tersebut dengan mengulang kalimat gue tapi secara benar. Kalau di Indo, sering dengar begini; ‘ye elah, bahasa Inggris standard aja sok-sok an berbahasa Inggris’

Tahun 2004, disaat gue mulai hidup dan berbaur dengan orang luar, gue merasa.. Damn!! Kenapa nggak dari dulu aja gue belajar di lingkungan yang seperti ini. Misal, kalau gue salah,- gue nggak pernah dengar ledekan, atau tatapan mengejek.

Dulu, minggu-minggu awal gue di Singapore,- gue punya teman sekelas dari India. Karena teman India ini bahasa Inggrisnya sempurna dan lancar, gue sering merasa minder berkomunikasi dengan dia. Gue hanya pede kalau berkomunikasi dengan pelajar dari Hong Kong, China dan Vietnam yang menurut gue bahasa Inggris gue dan mereka bedanya hanya 11-12.

Pernah, suatu ketika saat lagi jalan di trotoar menuju kelas. Gue mau ngomong sesuatu dan gue ragu dengan grammar gue, kalimat gue nyangkut, lalu  gue gantung kalimat itu, gue bilang nggak jadi deh.

Si teman India nanya; ‘Why??, lo mau ngomong apa tadi???”

Gue: “Nggak ah, ntar kalau salah..lo ketawa lagi dengerin kalimat gue” >> gue masih INDO BANGET waktu itu, ketakutan gue berbahasa Inggris adalah takut diketawain

Si temen India jadi heran dan berkata; “kenapa gue harus ketawa kalau lo ngomong salah, lo kan lagi belajar.. bahkan kalau lo nggak ngomong, diam kaya’ gitu.. gue yang bakal ketawa, alangkah bodohnya, dan lo bakal salah dan nggak tau dimana kesalahan lo selamanya”

Plak!!! Sebuah tamparan serasa melayang dipipi gue kala itu. Sejak saat itu, sifat INDO Banget gue mulai memudar……..

Menurut gue benar,- Practice makes perfect, English is not your Language, just enjoy the process of learning it, salah-salah dikit, kita belajar dari kesalahan bukan?? (gak berlaku untuk duta bangsa, atau apalah, contoh; kalau ngirim duta untuk Event International, yah jangan sampai bikin malu bangsa juga)

Kadang, gue pikir orang Indo memang suka ngebahas hal-hal sepele.

Contoh kedelapan;

Kaum putri dari middle class di Indo punya pendapat; mengerjakan perkerjaan rumah seperti nyetrika, nyuci baju, masak dan sebagainya adalah pekerjaan pembantu, dan merasa jatuh gengsinya kalau teman-temannya tau dia yang melakukan pekerjaan rumah. Para kaum putri ini sering merasa bangga dengan kalimat Indo banget seperti ini, ‘gue nggak bisa masak’, ‘gue nggak bisa nyetrika’, ‘gue nggak pernah ke dapur’.

Contoh kalimat yang Indo banget; ‘Duh, tugas bersih-bersih rumah dimulai….. udah berasa jadi kaya’ pembantu’

Perlu diulang ” Udah berasa jadi P E M B A N T U”

Kadang ada yang nggak mau jatuh gengsinya, padahal memang nggak punya pembantu tapi sering mengarang-ngarang cerita; pembantu gue lagi mudik.

Di Indo, pekerjaan bersih-bersih rumah, memasak merupakan tugas si mbak, mbok, bibik atau apalah.

Tahun 2006 akhir, gue nyewa kamar disebuah kondominium yang hanya ada 4 tenants, dari beda bangsa. Si landlordnya, tinggal di gedung yang sama tapi hanya beda lantai.

Si landlord, sering berkunjung ke flat yang dia sewakan dan sibuk bersih-bersih. Bahkan, kamar gue pun dibersihinnya. Gue sampai shock pas gue nyampe kamar, kamar gue dalam keadaan rapi, habis dipel. Si landlord, Singaporean lady diusia menjelang 50-an tapi masih keliatan muda dan gaya, bilang; ‘saya baru rapiin kamar kamu’

Gue nggak tau mau ngomong apa. ‘Thanks, but you shouldn’t do this.

Lalu dia bilang, saya yang punya unit ini, saya nggak suka property saya berantakan dan kotor, dan saya nggak tahan ngeliat sesuatu berantakan.

Gue; “But, you are a landlord here, the owner.. not a….’ Kalimat gue tertahan

Dia; ”haiyoo.. I know what you mean, kamu mungkin bakal ngira saya pembantu kan?? Saya nggak peduli what people might think, I am what I am, I don’t care people think I’m a maid because I tidy up your room and this flat. Saya lagi free, ngapain saya harus NUNGGU pembantu dulu untuk bersih-bersih.,….

Gue hanya diam membisu, namun kagum. Gue pernah ketemu nyonya-nyonya besar yang punya kosan di Jakarta, megang sapu aja nggak becus.

Nggak heran, di tempat Fitness, Seven Eleven, – tua muda,- nggak terbiasa clean their own mess. Gue perhatiin, di Singapore, Belanda,- habis makan di fastfood seperti MacDonald, atau seven eleven, masing-masing membuang sisa-sisa minuman, plastik makanan semuanya  ke tong sampah . Di Indo, dengan seenaknya ninggalin sisa-sisa makan dimeja masing-masing, berlenggang tanpa merasa bersalah. Bagi orang Indo;  It’s cleaning service duties, right….. ?? 

Contoh kesembilan;

Saking ramahnya orang Indo, nyepam di sebuah forum mungkin merupakan bahasa isyarat, hey, I read and pay attention to your stuff. Karena, di Indo, kalau diam atau no response berarti kurang sopan atau ‘marah’.

Gue sering lihat komentar-komentar nggak jelas seperti ini di forum-forum;

Pertamax, Keduax, Ketigax ….. dan seterusnya. Kadang gue heran, apa maksudnya sih, mungkin mereka hanya absen. Kalau gue pribadi lebih suka, ditinggalin komentar yang berarti daripada hanya menuh-menuhin notification gue.

Contoh kesepuluh dari topik Indo Banget;

Kosa kata ‘Ciyeeee’, entahlah, mungkin karena orang Indo memang suka suasana yang hangat dan heboh. Jadi sering nge ciyee—ciyee secara berjamaah dimana saja, berada disituasi apa aja selama berada dalam gerombolan besar orang Indo, atau juga dalam bentuk per-orang.

Contoh kesebelas;

Katanya sebagai bangsa timur yang merasa bermoral tinggi, sangatlah taboo dalam ngomongin masalah seks. Gue jadi sering bertanya-tanya, iyakah?? Menurut gue, malah bule yang menganggap seks itu hal yang sangat privasi. Coba deh perhatiin gaya humor atau komedian kita dalam berjenaka ria. Mereka nggak sungkan-sungkan ngebahas topik yang menjurus,    kadang kalau kita lagi nonton komedi Indonesia bersama keluarga, disaat pelawak itu melawak hal-hal yang berbau urusan sangat pribadi, gue yang menjadi risih sendiri.

Bahkan, di facebook atau obrolan singkat banyak yang ngumbar-ngumbar urusan ‘ranjang’, mungkin memang nggak terlalu blak-blakan. Tapi, di bikin kode seperti ‘jatah’ dan sebagainya.

Gue perhatiin temen-temen non Indo gue, mereka nggak semudah itu menceritakan masalah seks di ruang publik. Biasanya, mereka akan menceritakan hal privasi ke orang yang menurut mereka sangat dekat, bukan dijadiin bahan lelucon seperti dikita.

See, mungkin kita renungkan ini. Kadang kita sering terbuai dengan ucapan-ucapan sok suci, orang timur dengan nilai moral dan santun yang tinggi. Faktanya???

Can you feel me??

{Sumber gambar:http://www.englishandculture.com/Portals/98462/images/reverse%20culture%20shock%20quote%20from%20landis.png}

29 thoughts on “Indo banget!!

  1. Menarik cerita blognya.Tapi aku sering bingung,kenapa anak-anak Indo yang tinggal atau pernah hidup diluar selalu menyebut INDO untuk Indonesia.
    Indo artinya blasteran?

    • hi, thanks
      Emang betul, Indo itu artinya blasteran. Dipake waktu zaman Belanda, banyak yg Indo maksudnya campuran indo-Belanda. Tapi, Indo juga dipakai sebagai Indo-European, kalo nggak salah ini berasal dari Germanic Language.
      Ada lagi, sejarah kata INDONESIA itu diuraikan dari Indo dan nesos, kalo belum tau, jangan Kaget, Indo itu artinya INDIA, Indische. Aku juga sempat heran ada apa dengan India, karena di Amerika juga ada suku Indian, yang sejarahnya dulu Columbus bermaksud nyari India, tapi dia mendarat di Amerika, jadinya dia memanggil suku asli amerika sebagai INDIAN.

      Lucunya, di Indonesia, nama kita juga diarahkan ke India..😉

      Mengenai kenapa anak Indonesia di luar menyebut negaranya sebagai Indo?? dulu aku juga sempat protes, sampai akhirnya terbiasa sendiri, karena menurut aku Indo itu artinya Blasteran.

      Bahasa bukan ilmu pasti, nggak hanya bahasa Inggris, bahasa Indonesia pun mengalami pergeseran makna. Dalam bahasa Inggris juga banyak kata yang artinya nggak hanya satu kan. Begitu juga dengan istilah INDO.

      Zaman sekarang, Indo berarti slang untuk Indonesia, yang dipupulerkan oleh anak2 Indo di luar Indonesia.

      Mungkin begitu.

  2. gue suka kejujuran di tulisan ini. Tambahan nih,
    orang Indo tuh hanya demen ikut-ikutan,mereka ngefollow yang orang banyak follow tanpa tau siapa dan apa.Orang Indo itu memang masih anak-anak pola pikirnya.

    • hehe, thanks..kata pepatah, orang jujur hidupnya selamat…. hihiii, ngawur.

      aku setuju sama statement kamu, mungkin gara2 sistem pendidikan yang textbook, jadi kita cendrung pengen seragam, kalau beda berarti salah… kalau nggak ngefollow si A,B,C bakal dianggap nggak gaul, kalau nggak tau apa yg lagi trend, dianggap ‘kemana aja lo’, padahal,- nggak semuanya harus sama kannn….😉

  3. Contoh nomor 3 sungguh INDO banget,aku muak baca twitter selebtwit yang followernya sampai jutaan isinya jomblo all the way.Harusnya anak alay baca artikel ini.

    There is nothing wrong for being JOMBLO, our society is completely SICK.

    • tentang jomblo yang selalu dikutuk dinegri ini, kaya’nya contoh nomor dua mbak😉

      hihi… ada ya seleb twit yang begitu {pretend to raise the white flag daripada di bully massal, gue nggak punya pasukan}

  4. Keterbukaan & kejujuran diblog ini bisa menimbulkan banyak tafsiran, Indo Banget dan Shit Indonesian says masih mengandung makna negatif bagi sebagian besar orang kita

  5. Menarik🙂 . Setelah keluar negeri,mata kita emang lebih “terbuka”. Jadi inget di buku Eat Pray and Love, Elizabeth bingung kenapa di Bali orang selalu nanya dia udah nikah atau belum.terus dia dijelasin sm temennya yg asli Bali: org Indonesia ingin memastikan apakah dia(atau siapapun yg ditanya itu) bahagia atau tidak,dan bahagia bagi org Indonesia itu adalah pernikahan(atau udh punya pasangan).sayangnya,semakin lama,niatnya bukan “memastikan temennya bahagia”,tp ngtawain ketidakbahagiaannya(dlm persepsi mereka: jomblo itu tidak bahagia)…di sinilah,patut dipertanyakan itu semangat berbaginya…

    Intinya,banyak hal yg emg udah melenceng,tp jangan lupa,kalo diliat dari sisi “akar”nya,ada hal bagusnya juga…jadi jangan tll keras menghukum “diri sendiri”😀

    Anw,how bout u?have u integrated with local culture outside there?:D

    • Saya setuju dengan ide orang kita seperti ini;
      ‘dlm persepsi mereka: jomblo itu tidak bahagia’

      Menurut saya karena dibudaya kita, orang kita merasa, menjadi sendiri itu adalah ‘insecurity’. Saya pernah traveling sendiri di beberapa propinsi di Indo, setiap orang Indo yang saya temui pada bertanya, ‘Sendirian aja???’ , ada yang salut dan ada yang mandang kasihan.

      Lain lagi, saya sering lihat bule-bule yang sudah berumur (diatas 60-an) dengan lazimnya traveling sendiri. Hal yang nggak biasa bagi kita orang Indo, kita pasti akan bilang gini; ‘Kemana aja anak cucunya, tega-teganya ngebiarin orang tua mereka traveling sendiri’

      Padahal kita tidak tau, bagi mereka menjadi sendiri karena mereka merasa lebih nyaman, dan menenangkan diri.

      Saya nggak ngerti dengan kalimat ini;
      ‘tp jangan lupa,kalo diliat dari sisi “akar”nya,ada hal bagusnya juga…jadi jangan tll keras menghukum “diri sendiri”

      Maksud dari ‘Menghukum diri sendiri’ itu apa ya??😉 mungkin bisa lebih spesifik.

      Mengenai pertanyaan berikut;
      ‘Anw,how bout u?have u integrated with local culture outside there?:D’

      Tahun 2010, saya pulang ke Indo dan dalam waktu lebih sebulan, setelah bertahun-tahun hanya balik ke Indonesia sekian belas hari dalam setahun. Tadinya saya bahagia banget, back to Indo. Saya excited banget, ngebayangin makanan di Indonesia yang serba affordable, ‘orang-orangnya’yang fun, suka bercanda…

      Eh, pas saya menetap lebih dari sebulan, saya bingung sendiri… saya ngerasa ada yang beda, sebenarnya bukan beda,- mungkin karena saya sudah berintegrasi dengan budaya ditempat saya tinggal,-.. dan ternyata saya ngerasa aneh sendiri dengan custom di negara saya sendiri.

      Contoh; saya nggak bisa ketawa nonton guyonan Olga dkk di acara Dahsyat, menurut saya humornya dan humor saya udah clash bgt. Menurut saya, ngejek, nyindir, dan bikin orang lain jadi bahan tertawaan bukan hal yang lucu. Lalu saya ngerasa geli sendiri kalao ngedenger ‘lawakan’ yang ‘menjurus’ di TV.

      Menurut mbak, berhasil mengumpulkan poin-poin Indo banget diatas,- bukan karena kita sudah membaur dan bisa memandang diri kita sendiri dari berbagai sudut pandang??

      Salah satu teman saya mencibir ketika saya bilang, ‘saya ngerasa jadi orang asing ketika pulang’

      Mereka bilang, banyak kok yg pernah hidup diluar tapi biasa aja pas nyampe di Indo??

      Menurut saya, orang Indo yang nggak pernah ngalemin ‘reverse culture shock’ ketika dia lama diluar dan pulang keIndo… mungkin perlu dipertanyakan,Kemungkinan besar dia hanya bergaul dengan sesama Indo di luar sana, hanya ngumpul sama orang Indo sebagian besar, jadi dia nggak bisa merasakan perbedaan, nggak bisa membandingkan… *banyak kok orang Indo diluar sana yang begini, yang menurut saya sangat disayangkan.. *

  6. Blog ini lucu banget:D
    Gue antara ketawa dan miris bacanya, cool dah, yang punya blog sangat outspoken.

  7. Saya sampai di blog ini saat lagi surfing soal @shitindonesiansays Artikel ini bagus banget, sebagai orang Indo yang tinggal di Indonesia menurut saya semua yang anda tulis benar. Hmmm… Saya jadi bercita-cita ingin menyekolahkan anak saya di luar negeri kelak, supaya dia bisa terbuka. Terima kasih, salam.

    • Thanks udah mampir and ninggalin jejak🙂
      thanks udah baca entry ini dengan pikiran terbuka, kadang kita mmg perlu menempatkan diri sabagai outsider untuk melihat diri kita secara objectiv

      Btw, saya suka nama blognya.. Gerimis besar, 2 kata yang kontradiksi🙂

  8. Pingback: Arti Privasi | my unspoken mind

  9. Menurut saya, ngejek, nyindir, dan bikin orang lain jadi bahan tertawaan bukan hal yang lucu. Lalu saya ngerasa geli sendiri kalao ngedenger ‘lawakan’ yang ‘menjurus’ di TV…. <– thanks God, ternyata bukan aku aja yang 'aneh' ga nyaman dengan jokes2 seperti ini.

  10. Dulu saya pernah tinggal di Jepang 3,5 tahun. tapi ga sempat ngalamin cultural shock, padahal kawan saya semuanya orang jepang. tetangga2 dulu juga japanese semua. Kayaknya itu tergantung dengan cara menempatkan diri aja deh. Ga semuanya tentang indonesia itu jelek kok.
    Yaa memang ada kebudayaan yang ga bagus, tapi bukan berarti kita punya hak buat caci maki bangsa sendiri, mendingan mikirin caranya gimana biar budaya yang jeleknya ga diikutin sama kita, kalo bisa minimal ditularin lah sama orang2 terdekat (IMHO).

    • Hai Aldi,

      Yang saya ceritain disini ‘reverse culture shock’ bukan ‘culture shock’. Beda lho. Saya penasaran lho sama kamu, sampai nggak bisa ngalamin dua ini. Karena saya ngalamin dua-duanya, yang parahnya, CS hanya terjadi beberapa bulan, sedangkan Reverse, kaya’nya seumur hidup.

      Padahal Reverse/Cultural Shock hal yang normal lho, bukan hal yang dianggap sombong. Bahkan teman Belanda saya yang intership di SG slama 3 bulan dan pulang ke Belanda, ngalamin reverse culture shock, semacam dia kangen matahari di Asia, merindukan Asian yg orangnya jauh lebih ramah dari Eropa.. dibanding Eropa yg semuanya serba terschedule, cranky face.Itu namanya ‘reverse culture shock, bukan??

      Dan kan saya bilang di awal, bagi yang kurang lapang dada baca tulisan saya mungkin akan sangat tersinggung. Saya takjub lo sama kamu, 3.5 tahun berada di negara yg serba cepat, serba bersih, serba disiplin, teratur, kembali ke Indonesia nggak merasakan perbedaan yang drastis?? WOW… bisa jadi kamu kurang sensitif dengan sekitar kamu…

      Dan, tulisan saya nggak ada yang terdengar memaki-maki bangsa sendirikan?? Tapi saya hanya mengamati dan yang saya tulis FAKTA bukan?? nggak mengada-ada.. Memang benar orang Indonesia terlalu masalahin ‘relationship status’ orang lain, sedangkan diluar Indonesia, hal ini sangat tidak sopan, memang benar selebtwit kita sering bullying di social media, memang benar kita selalu ngerasa melakukan pekerjaan rumah adalah kerjaan pembantu dan kurang keren kalau ngaku2 saya lagi bersihin rumah, dan banyak jokes2 menjurus di tivi kita .. Jadi?? Dimana letak memaki-maki??

      Dengan tulisan ini saya mencoba untuk ngasih pandangan lain kan, siapa tau bisa ketularan.. dan nyadar kalau ngurusin status orang lain itu gak sopan dsb.

  11. Mantabbbzzz,,,tulisannya keratif Dan tidak membosankan
    Sama sekali tidak Ada menyinggung dsni melainkan memberi pencerahan,Bagi sy pribadi Lebih kpd mmbuka pikiran sy dr yg g tau jd tau,maklum blm prnh keluar negri,,hehehe

    Stlah baca tulisannya ini jd ga Malu ngakuin klu Kita iTu blm mangetahui ssuatu

    Thks y

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s