101010 at Balai Kartini


Hey,

Last week was a binary year, 101010.. Did you guys make a wish on that day? It’s once in a century.

Dihari itu gue menghadiri acara European Higher Education Fair (EHEF2010) di Balai Kartini, .. dan make a wish in heart,.. berharap someday gue bisa ngelanjutin sekolah ke negeri kecil-kecil cabe rawit, Belanda. Karena secara dominan, Booths universitas dari Belanda merajai pameran ini, yang disponsori oleh NESO.

 

EHEFT 2010, Balai Kartini

 

Sebenarnya dihari pertama gue sudah datang, tapi rada telat, sehingga kehabisan goodie bag . Dan bertemu beberapa staff dari NESO, tapi nggak bisa bersilaturahmi agak lamaan karena lagi nemenin temen yang cukup bawel dan bikin gue lupa diri.

Begini, oleh karena sudah pernah summer course di Belanda, beberapa teman mengira gue mengenal seluk beluk pendidikan di Belanda, jadi gue saranin aja untuk datang ke EHEF2010. Demi mencegah informasi yang salah, secara gue bukan ahlinya.

Hari esoknya, untuk kedua kalinya gue mengunjungi EHEF di Balai Kartini, Gatot Subroto. Tampak keramaian muda mudi yang sangat antusias untuk meraih masa depan di Eropa, menjinjing tas kecil bewarna biru, merchandise dari EHEF.

Siang yang panas itu cukup untuk melunturkan bedak gue😉 (nggak penting deh..) , dan beranjaklah gue ke toilet wanita untuk berbenah dikit, melintasi ruangan luas untuk lunch and coffee break. Eh, di toilet,  bertemu dengan salah seorang staff NESO, dan diajak makan siang bareng ditempat yang dikhususkan untuk panitia, tentulah ajakan ini tidak bisa ditolak!! ) makan-makan GRATIS!!

 

ikan bakar bumbu bali dan tahu telor

 

Setelah kenyang dan acara foto2 narsis, akhirnya dengan perjuangan keras kita berhasil melepaskan diri dari sofa empuk yang nyaman menuju pameran diadakan.

Di acara coffee break, salah satu staff dari NESO memperkenalkan gue ke Direktur NESO, Mr. Marrik. Beliau orang Belanda, dan tau nggak.. ternyata meneer ini bisa berbahasa Indonesia dengan lancar. *takjub* (entar  kalau  jadi sekolah di Belanda, gue juga ingin mempelajari bahasa Belanda, secara kita hidup dinegeri mereka dalam waktu yang cukup lama. Kalau mau berintegrasi dengan penduduk lokal, mempelajari bahasa mereka it’s  a fun things to do..  at least, I’m not going to be lonely,.. hang-out with locals and  join into their conversation.)

 

with Directur of NESO, Marrik Bellen

 

Mungkin ada yang bertanya, kenapa sih harus Belanda pilihan untuk melanjutkan studi?

Begini, secara jujur..  dulu, gue juga nggak tau apa-apa tentang Belanda. Malahan, dulu gue sangat bermimpi bisa menapakan kaki ke negeri Harry Potter dan David Beckham.

Sampai suatu ketika, gue punya teman orang Belanda, dan bertanya ke dia,… “emang kalau di Belanda.. bisa survive nggak gue kalau nggak menguasai bahasa Belanda.” Dan jawabannya, di Belanda hampir semua orang bisa berbahasa inggris, especially, for those yang sekolahnya cukup tinggi.

Dan mulailah gue mengugel pendidikan di Belanda, yang membuat  mimpi-mimpi ke negri Harry Potter terlupakan sudah.

Mari kita buat perbandingan,

Inggris: Biaya pendidikan sangat mahal. (Makanannya nggak enak, nggak seperti Belanda sangat jarang mungkin langka menemukan Indonesisch Restaurants)

Belanda: Biaya pendidikan nggak semahal Inggris, karena pendidikan di Belanda mendapat subsidi dari pemerintah. Dan in English, for sure.

Jerman: Biaya pendidikan murah, tapi ada syarat yang sangat tidak mengenakan buat orang asing. Harus menguasai bahasa Jerman.

Ow-ow… bukannya malas untuk mempelajari bahasa Jerman, tapi, kurang hemat waktu kalau kita harus mempelajari bahasa Jerman dulu, dan… bahasa Eropa, bukan bahasa yang mudah. Mereka punya grammar yang rumit, serta pengucapan yang ribet (apalagi Belanda!!)

Dulu, waktu jadi murid baru di Singapore… nilai presentasi gue  nggak sebagus murid-murid dari India dan Singapore, atau Amerika, hanya karena masalah bahasa. Inggris is not my mom language, otomatis, meski IELTS/TOEFL kita memadaipun, kadang kalau harus melakukan presentasi dalam bahasa asing didepan murid-murid yang Inggris bisa dikatakan bahasa sehari-hari mereka, rasa percaya diri kita pudar. My own experience. Dulu, gue jauh lebih pede kalau lagi cas cis cus inggris dengan teman-teman dari Vietnam, China, Japan atau Taiwan. Karena Inggris sama-sama bukan bahasa ibu kita.

Kadang, isi presentasi teman gue yang dari India (atau Amrik) juga nggak secanggih cara dia mempresentasikan (baca: topiknya basi malahan, tapi modal omongnya itu euyyyy). Karena mereka punya sky high self-esteem dengan bahasa Inggris sebagai Lingua Franca dinegeri mereka.

Dan inilah yang akan terjadi kalau sekolah dalam bahasa Jerman, menulis thesis dalam bahasa Jerman, presentasi dalam bahasa Jerman (tentu akan bersaing cukup keras dengan orang Jerman yg berbahasa Jerman), nonton film Hollywood yang didubbing ke bahasa Jerman (oh nooooo!!!).  Hal yang sama terjadi di Perancis dan Spanyol. ( It’s just my own opinion yaa, bagi yang nggak setuju atau cinta Jerman banget mungkin agak tersinggung sama pendapat gue ini.)

‘Butuh waktu dan kesabaran untuk menguasai sebuah bahasa asing.’

Jerman,Perancis dan Spanyol bisa dijadiin weekend gateway kalau kita sekolah di Belanda. Kalau dari segi keindahan alam, Belanda memang nggak ada apa-apanya dibanding negara-negara tetangganya. Tapi untuk hidup yang freedom, friendly, hobi sepeda-an dan easy to communicate dengan penduduk setempat, yah, Belanda tempatnya. (meski sekarang, sejak 9/11 Geert Wilder cukup menodai bentuk toleransi dan ‘welcome country’ untuk Belanda)

Negara pilihan lain, Australia, Amerika. Jawabannya; Mahaaallll……

Nah, apalagi kalau bukan Belanda… Dari presentasi yang gue dengar di EHEF, Inggris memiliki Perguruan tinggi lebih banyak dibanding Belanda. Tapi, jumlah perguruan tinggi yang bisa dikatakan sangat berkualitas itu hanya 50 %, sedangkan Belanda yang jumlah perguruan tingginya tidak sebanyak Inggris*,  Belanda memiliki 80 % perguruan tinggi yang berkualitas tinggi dan memenuhi standard.

* ukuran wilayah Belanda sangat kecil dibanding Inggris, nggak heran jumlah universitas mereka lebih sedikit jumlahnya.

 

Brochure and Merchandise from EHEF event

 

8 thoughts on “101010 at Balai Kartini

  1. sayang tak ada acara EHEF di Solo. kemaren ada di Jogja tapi ga bisa dateng karena kuliah…😦
    *hwaaaa…. saya ngiler liat “oleh2” dari ehef, banyak banget….
    *ah iya, setuju BANGET dgn pendapatny tentang kenapa milih belanda ketimbang negera lain, ^^
    beidewei, tema blog nya sama… *hahay*😆

  2. alamaaakkk
    blogwalking pagi” dalam keadaan belum makan udah disuguhin nasi yang keliatannya enak banget. Biyuhh biyuhh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s