Episode 10: Berlijn


Tak pernah ada bayangan sebelumnya,kalau gue akan menapakan kaki ini ke Berlin. Apa?? Berlin… Disaat Yosua berencana akan ke Paris, dan ada istilahnya, .. ‘Belum ke Eropa,kalau belum ke Paris’… gue tidak begitu peduli dengan suara-suara itu.

Dulu sekali,sempat tegila-gila dengan segala se suatu serba Perancis. Belajar bahasa Perancis,salah satu bentuk kegemaran gue akan Perancis.

Namun,seiring berjalannya waktu.. entah kenapa,Paris atau Perancis sudah cukup memudar dihati ini.Gue pun nggak tahu,apa yang bisa membuat gue berpindah ke lain hati.

Apakah karena Paris sudah terlalu terkenal,tempat yang ‘pasaran’ bagi para turis…. atau karena Paris merupakan kota fashion,merek mewah Louis Vuitton bermarkas, parfum dan pusat belanja… Mungkin hal inilah yang membuat hasrat gue akan Paris sirna secara perlahan.

Belanja, parfum dan merek ternama bukan bagian dari gue.Ditambah dengan gelar Paris sebagai kota cinta,dimana banyak pasangan mengabadikan foto-foto romantis mereka dengan menara Eiffel sebagai latar belakang. Ah, I’ve lost my romantic muscle at the moment.. forget about it.

Beberapa hari keberadaan gue di Belanda,dapat undangan melalui Facebook untuk singgah ke Berlin oleh seorang warga Berlin. Perkenalan dengan Berliner ini, berawal mula dari seorang wartawan Jerman yang gue kenal dari aktifitas blogging. Dia seorang wanita Jerman yang cukup gue kagumin dengan keahliannya berbahasa Indonesia secara fasih, Jawa serta Persia. Jadi, Berliner yang mengundang gue merupakan teman dari si wartawan Jerman.

Setelah Summer Course usai, berangkatlah gue seorang diri ke Berlin dengan Bus malam.Hanya berbekal satu tas ransel jadilah turis ala backpacker. Perjalanan dari Belanda ke Berlin memakan waktu 9 jam, bus berangkat pukul 12 malam teng,.. ‘mendarat’ di Berlin pada pukul 9 pagi.

Lumayan, nginap di bus aja. Untungnya gue bukan termasuk turis ribet, yang harus tidur dihotel berbintang dan sbagainya, tenang aja.. udah terbiasa hidup begini kok.Selagi masih muda.. enjoy life sebagai petualang. ;p
(sebenarnya sih bokek aja…SOK NGELES )

Kunjungan ke Berlin sangatlah singkat,hanya 2 hari 1 malam. Jadi, tak banyak sebenar yang bisa gue paparkan tentang Berlin, ibukota dari negara dengan ekonomi terluas di Eropa ini.

Kesan pertama yang gue dapat dari Berlin atau Jerman sejak duduk seorang diri dibus malam Euroline, adalah DINGIN.Serasa hidup seorang diri,tanpa senyum melayang ke arah gue,.. ahh tidak seperti di Belanda….

Bahkan didalam bus,tak ada ada tegur sapa pun dengan sesama penumpang.Mereka sibuk dengan dunianya sendiri.

Anehnya di perbatasan,tiba-tiba bus berhenti dan terdengar ucapan ‘passport,passport’. Oh, petugas imigrasi yang akan memeriksa passport para penumpangnya. Hmm, katanya Eropa sekarang satu… ternyata masih menanyakan passport meski sudah masuk ke salah satu negara Schengen secara resmi.

Semuanya dalam bahasa Jerman,tak ada bedanya dengan Belanda.Namun, di Belanda gue masih mendengar bahasa Inggris, bisa cuek aja ngomong dalam Inggris.. di Berlin, … mereka agak lebih suka menggunakan bahasa Jerman. Untunglah Berliner yang gue kenal ini dengan baik hatinya memandu ke tempat-tempat tujuan wisata di Berlin.

Rupanya, meski tetanggaan,- Belanda dan Jerman memiliki perbedaan yang cukup dalam. Belanda, mereka cukup terbuka,banyak senyum bertebaran disana sini, sepeda lalu lalang, walkable place to visit.

Sedangkan Jerman, mereka sangat tertutup, seperti sangat menjaga jarak dengan orang asing, tidak seekpresif orang Belanda, kurang senyum dan tawa (mungkin mereka akan ketawa dan senyum kalau sudah minum 20 botol bir),jalanannya luas dan tidak begitu banyak sepeda.

Meski begitu, jujur saja.. Berlin sangat menarik dan sedikit menyesal kenapa waktu ini sangat terbatas. I hope I’ll be back to Berlin again, as soon as I could😉

Waktu kecil,gue sering mendengar tentang Tembok Berlin yang diruntuhkan dan peristiwa ini merupakan momen yang sangat bersejarah bagi Rakyat Jerman, bersatunya rakyat Jerman dari barat dan timur.

Biaya hidup di Berlin cukup murah dibandingkan ibukota lainnya di Eropa, Frankfurt merupakan kota dengan biaya hidup yang sangat mahal di Jerman. Menurut gue aneh,.. karena, biasanya… Ibukota negara selalu identik dengan kata mahal, kosmopolitan, padat penduduk.

Penduduk di Berlin cukup padat, 3.5 juta jiwa, (gak ada apa-apanya dibanding Jakarta,9 juta jiwa dengan ukuran kota yang relatif sama antara Jakarta dan Berlin). Hidup di Berlin cukup menjanjikan dengan sewa satu unit apartment yang menurut gue jauh lebih murah dibandingkan Singapore.

Oh, kota ini penuh dengan historical sitesnya… Sisa sisa tembok Berlin diubah menjadi pameran lukisan terpanjang serta bisa dinikmati siapa saja yang melewatinya. Sangat kreatif grafiti yang tertoreh disepanjang tembok Berlin. Gue kagum.

Checkpoints Chalie mempunyai cerita menyedihkan. Checkpoint ini memisahkan antara Jerman Timur dan Barat pada tembok Berlin. Jadi setiap mobil yang menyebrangi antara Timur dan Barat harus melalui pemeriksaan terlebih dahulu. Checkpoint C ini salah satu turis atraksi terpenting di Berlin.

Tidak lupa mengunjungi Brandenburg Gate, Tugu Peringatan pembunuhan massal kaum yahudi, Viktoria Park – Kreuzberg…., dan karena gue mengitari Berlin dengan lokal, bukan pemandu wisata… gue sempat bermain-main dipamakaman tua. Bayangkan, gue menemui batu nisan abad 18.

Memorial to the murdered Jewish

Memorial to the murdered Jewish

Brandenburg Gate

Brandenburg Gate

polizei

Polizei

Checkpoint Charlie

Checkpoint Charlie

Kunjungan singkat ke Berlin tidaklah cukup untuk mengekplorasi apa yang tersimpan di kota Berlin.

Victoria Park

Pemakaman Tua

Pemakaman Tua

Subway in Berlin

Subway in Berlin

Karena gue di Berlin bersama Berliner dan dalam waktu yang sangat singkat ada untung dan ruginya.

Ruginya, gue lebih banyak melakukan komunikasi 2 arah antara gue dan Berliner,it’s hard to be an observant when you’re not alone. Hasilnya, pelajaran tentang Berlin dan kehidupannya kurang begitu masuk dimemori gue,tidak seperti pengelanaan seorang diri dibeberapa kota Belanda,gue bisa melihat dan mengambil kesimpulan sendiri.Uhhm, atau mungkin karena gue sudah terbiasa menjelajah seorang diri,ketika menemui partner,.. gue menjadi sedikit tak terbiasa.

Untungnya,ditraktir makan ke Restoran di Berlin.Serta berkenalan dengan pemilik dan yang tukang masak di restoran tersebut. Restoran ini mungkin tidak akan ditemui di lonely planet, buku panduan wisata. Tapi, hanya karena seorang Berliner yang cukup baik hati membawa nasib gue ketempat ini.

Ternyata,dunia itu memang sempit.Di restorant Indonesia Berlin ini pulalah gue bertemu dengan salah seorang 30 finalist kompetiblog. Yangki Made Suara. What a coincident bukan,.. kita merasa hal ini sangat lucu, entah kenapa.. kita bisa ketemu di tempat ini…

with Yangki, berliner, Rudy

with Yangki, berliner, Rudy

Sebelum kembali ke Belanda, Berliner inilah mengantar gue ke terminal bus. Tak jauh dari terminal bus, pandangan mata ini jatuh ke sebuah menara yang sangat mirip dengan menara Eiffel tapi ukuran mininya.

Funkturm

Aha,gak perlu jauh-jauh ke Paris, Berlin pun punya menara mirip Eiffel.Namanya Funkturm, menara radio di Berlin yang telah berdiri sejak tahun 1926. Menara Eiffel di Berlin…. Waving good bye to this Berliner, thanks for your time and kindness.. sorry, If I’m not really a nice guest and only brought a little bottle of wine which is nothing special in Europe. I supposed to bring my host something special from my country😦 ,.. I’m just not really a good person in shopping.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s